Beranda > berita dan informasi penerbangan, Berita Penerbangan > Maskapai Berebut Pasar Regional, Siapa Paling Kuat?

Maskapai Berebut Pasar Regional, Siapa Paling Kuat?

Maskapai Berebut Pasar Regional, Siapa Paling Kuat?

VIVAnews – Lebih dari setahun terakhir, PT Lion Mentari Airlines, tak henti menggebrak bisnis penerbangan Tanah Air. Juni tahun lalu, operator pesawat Lion Air itu memesan lima Boeing 787 Dreamliner. Total senilai US$967,5 juta.

Lima bulan kemudian, Grup Lion memborong 230 pesawat Boeing. Nilainya lebih fantastis, US$22,4 miliar. Pesawat-pesawat itu akan dikirim bertahap pada 2017-2025, untuk melengkapi pesanan sebelumnya 178 Boeing 737-900ER.

Kini, Lion Air tak hanya bermain di dalam negeri. Kepak sayap dilebarkan hingga negeri tetangga. Sasaran terdekatnya adalah Malaysia.

Di Negeri Jiran itu, Grup Lion menggandeng salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Malaysia, National Aerospace and Defense Industries (NADI) Sdn Bhd, untuk membentuk Malindo Airways. Pada perusahaan patungan itu, NADI menguasai 51 persen saham, sedangkan Lion Air kebagian 49 persen.

Secara terang-terangan, maskapai nasional itu akan menjajal persaingan bisnis penerbangan berbiaya murah atau Low Cost Carrier (LCC) di Malaysia. Lion Air akan menantang dominasi penguasa bisnis LCC di Malaysia, AirAsia Bhd.

Pertumbuhan kalangan kelas menengah Asia Tenggara yang membutuhkan pesawat murah, menjadi salah satu pertimbangan Lion Air masuk dalam bisnis penerbangan berbiaya murah di Malaysia.

“Malindo mengambil langkah tepat menangkap peluang pangsa pasar penerbangan murah yang tengah berkembang,” kata Perdana Menteri Malaysia, Nazib Razak, yang menyaksikan penandatanganan kerja sama antara NADI dan Grup Lion, di Kuala Lumpur, seperti dikutip laman Reuters, Selasa, 11 September 2012.

Rencananya, Malindo Airways mulai melayani penerbangan dengan rute sejumlah daerah di Indonesia dan Malaysia pada Mei tahun depan. Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, mengatakan, perusahaan bakal mempersiapkan 12 armada Boeing 727 dan akan bertambah menjadi 100 unit dalam satu dekade mendatang.

“Saya akan menjual tiket sama seperti yang dijual AirAsia. Bahkan, bila perlu saya menjualnya lebih murah,” tantang Rusdi Kirana di sela penandatanganan kerja sama itu.

Sontak, ekspansi Lion Air tersebut berimbas cepat ke Bursa Malaysia. Sehari setelah penandatanganan kerja sama itu, saham penguasa maskapai berbiaya murah di Malaysia, AirAsia, langsung rontok.

Pada awal transaksi Rabu 12 September 2012, saham AirAsia anjlok hampir 5 persen. Sekitar pukul 09.28 waktu Malaysia, saham AirAsia melemah 4,7 persen ke level RM3,04.

Saham maskapai asal Malaysia ini sempat melorot ke level terendah sebesar RM3,03. Penurunan saham AirAsia cukup signifikan di tengah pembukaan indeks bursa saham Malaysia yang turun 0,12 persen.

“Dampak langsung yang dirasakan AirAsia adalah munculnya kontraksi dari margin keuntungan, karena adanya potensi persaingan harga,” tulis laporan Kenanga Investment Bank, seperti dikutip laman Reuters, Rabu, 12 September 2012.

Namun, Kenanga menilai, AirAsia kemungkinan mampu mengatasi kebijakan pemotongan tarif pesawat lewat sumber pemasukan lain. Seperti diketahui, AirAsia memiliki sejumlah perusahaan yang tergabung dalam AirAsia Group.

“Kami dalam posisi netral terhadap berita ini. Sama seperti kami tak melihat Malindo sebagai ancaman bagi AirAsia dalam jangka pendek,” tulis Kenanga.

Sementara itu, pada akhir transaksi kemarin, saham AirAsia melemah 0,14 poin (4,39 persen) ke level RM3,05. Harga saham AirAsia tercatat cukup aktif diperdagangkan, dengan harga terendah mencapai RM3,02 dan tertinggi RM3,13.

Bersaing di Kelas Murah
Tantangan Lion Air dengan menyasar markas AirAsia di Malaysia, membuat persaingan di antara kedua maskapai penerbangan murah tersebut kian memanas. Keduanya berupaya menggaet pangsa pasar Asia Tenggara yang memang tengah bertumbuh seiring pendapatan masyarakat yang meningkat.

Sebenarnya di dalam negeri, ceruk pasar untuk bisnis penerbangan berbiaya murah tidak hanya milik Lion Air dan AirAsia. Masih ada maskapai yang bermain di pasar ini. Sebut saja Citilink, Mandala Airlines, dan Sriwijaya Air.

Pemilik baru Mandala Airlines, Sandiaga S. Uno, mengklaim sudah menyiapkan strategi khusus untuk merebut pangsa pasar penerbangan murah di Indonesia. “Ini membuktikan industri penerbangan di Indonesia terus tumbuh,” kata Sandiaga Uno kepada VIVAnews, pertengahan Agustus lalu.

Sandiaga mengakui, akuisisi AirAsia terhadap Batavia Air dan pendirian kantor AirAsia untuk kawasan ASEAN di Jakarta, membuat persaingan di industri penerbangan semakin ketat. Namun, ekspansi itu, tak menyurutkan langkah Mandala untuk dapat merebut pangsa pasar penerbangan berbiaya murah.

Kehadiran Tiger Airways yang menyokong operasional Mandala Airlines, dia melanjutkan, bisa menjadi kunci sukses Mandala. “On Time Performance (OTP) Mandala jadi terdongkrak di atas 90 persen,” klaimnya.

Selain itu, Mandala mengincar rute-rute strategis yang “gemuk” penumpang. Setelah pada 12 Agustus 2012 resmi meluncurkan penerbangan perdana Jakarta-Bangkok, Mandala akan segera membuka dua rute lagi.

“Destinasi selanjutnya Denpasar, lalu ke Perth, mudah-mudahan tahun ini,” tuturnya.

Menurut data Kementerian Perhubungan, Mandala sudah mendapatkan izin untuk terbang di tiga rute internasional. Tiga rute itu adalah Jakarta-Bangkok, Jakarta-Kuala Lumpur, dan Medan-Singapura.

Untuk itu, Mandala berencana menambah pesawat menjadi 10 unit hingga akhir 2012 dengan kucuran dana Rp4,5 triliun. Saat ini, maskapai yang semula dibangun oleh kesatuan Kostrad itu baru memiliki 5 unit pesawat Airbus A230.

Sandiaga optimistis, ekonomi Indonesia terus bertumbuh. Ditandai munculnya kelas menengah baru yang mencapai 49 juta orang. Dengan kenaikan kelas menengah itu, jumlah penumpang pesawat diproyeksikan bisa menembus 60 juta pada 2015 dan 75 juta pada 2020.

Sedangkan Citilink, yang kini menjadi maskapai independen, terpisah dari unit usaha strategis PT Garuda Indonesia Tbk, juga akan merambah pasar Asia dan Australia pada 2013. Maskapai itu akan membuka penerbangan ke Singapura, Kuala Lumpur, Penang, dan Australia.

Namun, Direktur Utama Citilink, Arif Wibowo, mengatakan, tahun ini Citilink masih fokus di pasar domestik. “Kami mendapatkan izin dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk 70 rute domestik dan 17 rute regional,” kata Arif, belum lama ini.

Menurut dia, rute regional yang dimaksud adalah rute-rute luar negeri yang berjarak tempuh maksimal tiga jam penerbangan. “Tahun depan kami akan masuk ke regional, sekarang fokus di domestik dulu,” katanya.

Maskapai ini juga akan mendatangkan 50 pesawat baru A320 secara bertahap yang akan mulai diterima pada 2014. Periode September 2011 hingga Februari 2012 sebanyak 5 pesawat A320 sudah datang melalui proses leasing.

Saat ini, Citilink yang berbasis di Jakarta dan Surabaya, per Januari 2012 melayani 8 rute penerbangan harian dari Jakarta dan Surabaya ke Batam, Banjarmasin, Denpasar, Balikpapan, Medan, dan Makassar.

Siapa Paling Kuat
Lalu, bagaimana dengan Lion Air? Untuk menghadapi persaingan bisnis dengan penguasa pasar penerbangan berbiaya murah di Malaysia, Lion Air bakal membekali Malindo Airways dengan berbagai fasilitas yang tak lumrah untuk maskapai penerbangan LCC lainnya.

Malindo Airways bakal menyediakan pesawat dengan berbagai fasilitas hiburan di dalam pesawat, ruang kabin yang lebih luas, serta makanan ringan gratis. Semua fasilitas itu diberikan dengan tetap mempertahankan harga tiket murah.

Untuk fasilitas parkir pesawat, Malindo Airways bakal menggunakan KLIA 2, salah satu terminal baru yang akan dibangun Malaysia. Saat ini, terminal KLIA 2 sedang dalam tahap konstruksi.

Sedangkan AirAsia yang belum lama ini memaparkan pembelian saham Batavia Air dengan harga US$80 juta, akan semakin meramaikan persaingan bisnis penerbangan murah ini. Air Asia kini makin memanaskan kompetisi dengan pesaingnya seperti Citilink, Lion Air, Mandala, dan Sriwijaya Air.

“Mungkin nantinya persaingan akan mengerucut pada tiga kekuatan besar yaitu AirAsia, Lion Air, dan Citilink,” kata pengamat penerbangan, Alvin Lie, kepada VIVAnews, belum lama ini.

Menurut Alvin Lie, maskapai yang harus berjuang menentukan posisinya dalam peta persaingan bisnis penerbangan LCC adalah Sriwijaya Air dan Mandala. “Yang agak tanggung sekarang adalah Sriwijaya. Apakah mereka akan repositioning atau seperti apa. Sementara itu, Mandala masih mencari bentuk,” kata Alvin.

Dari dua kekuatan besar maskapai LCC, Alvin justru melihat persaingan besar akan terjadi pada dua operator yaitu AirAsia dan Citilink. Selain bermodal kuat, keduanya tercatat sudah memiliki pesawat yang bermain di level regional.

Sebagai anak usaha Garuda Indonesia, Citilink diuntungkan dengan posisi induk perusahaan. Citilink bisa menggunakan jaringan regional yang dimiliki oleh induk usahanya yang sudah bergabung dengan jaringan global Skytrax.

Sementara itu, AirAsia Indonesia yang masuk dalam keluarga AirAsia Bhd juga memiliki kekuatan yang sama. Induk usaha mereka sudah mempunyai jaringan yang bersifat regional dengan rute penerbangan internasional yang lebih besar.

Pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo, menilai langkah maskapai penerbangan murah Indonesia, Lion Air, berekspansi ke Malaysia merupakan kebijakan strategis guna merebut pangsa pasar penerbangan murah di kawasan Asia Tenggara.

“Ekspansi Lion Air ke Malaysia merupakan jawaban industri penerbangan Indonesia kepada negeri tetangga kita itu,” kata Dudi saat dihubungi VIVAnews, Rabu 12 September 2012.

Ia menjelaskan, dari 600 juta penumpang di Asia Tenggara, sekitar 50 persennya berada di Indonesia. Untuk itu, layak jika ada maskapai asal
Indonesia berekspansi ke luar negeri.

AirAsia dan Lion Air merupakan dua maskapai penerbangan murah paling menonjol di kawasan Asia Tenggara. AirAsia telah lebih dulu berekspansi ke Indonesia. Seperti tidak mau kalah, Lion Air juga melakukan ekspansi balik ke Malaysia.

Namun, terkait langkah besar Lion Air dengan merangsek ke pasar Malaysia ditanggapi dingin maskapai penerbangan murah AirAsia. Bahkan, kehadiran Lion Air dinilai takkan mengancam keberadaan AirAsia sebagai maskapai murah terbesar ketiga Asia.

Tanggapan tersebut disampaikan Chief Executive AirAsia, Tan Sri Tony Fernandes, seperti dikutip dari laman Bernama, Rabu, 12 September 2012.

“Kami sedang membangun merek global dan saya pikir sesuatu seperti ini (maskapai baru), takkan membuat kami melamban,” kata Tony Fernandes.

Tony yang kini menjadi bos AirAsia untuk mempersiapkan markas baru di Indonesia, membantah jika kehadiran Malindo Airways akan memaksa perusahaan menurunkan tekanan persaingan di Indonesia. “Maskapai baru bukan sebuah isu besar untuk AirAsia,” ujarnya. (eh)

sumber :
http://us.fokus.news.viva.co.id/news/read/350911-maskapai-berebut-pasar-regional–siapa-paling-kuat-

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: