Beranda > berita dan informasi penerbangan > Harga Tiket Pesawat Naik 80%, Inflasi Agustus Ikut ‘Terbang’

Harga Tiket Pesawat Naik 80%, Inflasi Agustus Ikut ‘Terbang’

Harga Tiket Pesawat Naik 80%, Inflasi Agustus Ikut ‘Terbang’

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan beberapa penyebab terjadinya inflasi pada bulan Agustus 2012. Salah satu penyebab utama terbentuknya inflasi tersebut adalah kenaikan harga angkutan udara atau tiket pesawat.

Kepala BPS Suryamin menyatakan meskipun bobotnya tidak terlalu besar dalam penghitungan inflasi, yaitu hanya 0,1 persen, tetapi kenaikan harga angkutan udara pada bulan Agustus yang rata-ratanya mencapai 13,78 persen mampu menjadi faktor utama inflasi bulan itu.

“Angkutan udara andilnya ke inflasi 0,1 persen, pada bulan Agustus 2012 terjadi perubahan harga sebesar 13,78 persen. Terjadi di 41 kota, Manado memiliki kenaikan harga yang paling tinggi mencapai 80 persen dan Pangkal Pinang sebesar 69 persen,” ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (3/9/2012).

Selain itu, penyebab inflasi adalah ikan segar dengan andil sebesar 0,1 persen dengan rata-rata kenaikan harga sekitar 3,31 persen. Hal tersebut karena kurangnya pasokan karena cuaca.

Kemudian, kenaikan harga angkutan kota semasa mudik lebaran yang mencapai 13,99 persen dan terjadi di 43 kota. Kenaikan tertinggi di Probolinggo sebesar 50 persen dan Jember sebesar 42 persen.

“Jadi meskipun sudah diminta pemerintah untuk tidak menaikkan harga yang tinggi, tapi kenyataannya masih naik,” ujarnya.

Suryamin menyatakan kenaikan harga tahu dan tempe hingga 8,36 persen juga memengaruhi inflasi. Dia menilai kenaikan harga ini karena tingginya harga bahan baku tempe dan tahu yaitu kedelai dan besarnya permintaan cukup tinggi pada bulan Agustus ini.

“Kenaikan harga terjadi di 59 kota dengan kenaikan tertinggi di Bekasi sebesar 25 persen, Kediri 22 persen, dan rata-rata kenaikan harga di kota lain sekitar 5-20 persen,” jelasnya.

Sementara untuk tempe, lanjut Suryamin, dengan kenaikan harga yang sama besar dengan tahu, terjadi di 61 kota dengan kenaikan harga tertinggi di Kediri 24 persen dan Jayapura sebesar 20 persen.

“Kenaikan rata-rata 5-20 persen di kota lain,” tambahnya.

Uang kuliah pun juga menjadi penyebab inflasi dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,05 persen. Kenaikan harga uang kuliah tersebut rata-ratanya sebesar 3,69 persen dengan kenaikan harga yang terjadi di 17 kota. Bogor mengalami kenaikan tertinggi sebesar 46 persen dan Probolinggo 40 persen.

Daging sapi dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,04 persen mengalami kenaikan rata-rata sekitar 4,86 persen. Hal ini disebabkan karena tingginya permintaan. Terjadi kenaikan di 57 kota dengan kenaikan tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 17 persen dan Depok sebesar 13 persen.

Emas perhiasan juga memberikan andil sebesar 0.03 persen terhadap inflasi dengan kenaikan sebesar 1.36 persen. Terjadi di 61 kota, dengan kenaikan tertinggi di Bima yaitu sebesar 7 persen, Mataram dan Banjarmasin sebesar 4 persen.

“Ini karena pengaruh harga emas internasional,” ungkap Suryamin.

Selain itu ada penyebab inflasi dari kacang panjang karena tingginya permintaan selama lebaran dengan andil terhadap inflasi sebesar 0.02 persen. Kenaikan harganya sekitar 12,38 persen di 44 kota. Kenaikan harga tertinggi di Ambon yaitu sekitar 61 persen, Jakarta sebesar 31 persen, dan di kota lain sebesar 5-30 persen.

Begitu pun dengan uang sekolah SD, SMP, SMA, dan bensin, dan kangkung yang naik hingga 6,28 persen.

“Kenaikan harga bensin karena kenaikan harga Pertamax,” ujarnya.

Selain komoditas penyebab inflasi, terdapat juga komoditas penekan inflasi. Ada 4 komoditas penghambat inflasi bulan Agustus tahun ini yaitu telur ayam ras dengan penerunan harga sekitar 5,49 persen di 40 kota. Penurunan terendah terjadi di Kediri yaitu sebesar 17 persen dan Bandung sebesar 12 persen.

Kemudian daging ayam ras, karena banyaknya pasokan sehingga terjadi penurunan harga sebesar 1.86 persen sehingga andilnya ke deflasi sebesar 0,04 persen. Penurunan terendah di Pangkal Pinang dan Bengkulu sebesar 19 persen dan Jambi sebesar 18 persen.

Cabe merah sebesar 6.83 persen dengan andil 0,03 persen terhadap deflasi. Hal ini karena pasokan banyak, sehingga terjadi penurunan di 53 kota, penurunan Mataram dan Pontianak sebesar 36 persen, kemudian Tegal 29 persen.

“Rata-rata penurunan 5-28 persen di kota lain,” tegasnya.

Kemudian bawang merah, penurunan harga rata-rata sebesar 6.33 persen. Pasokan cukup banyak sehingga terjadi penurunan harga di 62 kota, dengan penurunan terendah sebesar Mataram dan Jayapura sebesar 20 persen, Kupang sebesar 19 persen, dan di kota lain sebesar 5-20 persen.

sumber :
http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=Travel+News&y=cybertravel|0|0|4|5083

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: