Beranda > danau > Melongok Takengon dari Atas Awan

Melongok Takengon dari Atas Awan

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Melongok Takengon dari Atas Awan

Melongok Takengon dari Atas Awan

Oleh: Ngarto Februana

Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, dengan airnya yang kebiru-biruan dan dikelilingi perbukitan, sangat mempesona.

Berulang kali aku mencoba untuk selalu mengalah…. Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…. Lengkingan suara merdu penyanyi Betharia Sonata mengiringi perjalananku dari Banda Aceh menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, awal April lalu. Sopir Colt L300 itu tampak bersemangat memutar lagu-lagu yang mendayu-dayu tersebut. Diputar berulang-ulang, dibolak-balik. Pita kaset sampai kusut.

Pagi itu udara panas. Angkutan umum tanpa penyejuk udara itu terus melaju di Jalan Raya Banda Aceh-Medan; meninggalkan Banda Aceh, kota yang tiga tahun silam luluh lantak oleh gempa dan tsunami. Beberapa kali moda antarkota itu berhenti untuk menaikkan penumpang. Dengan udara gerah, perjalanan 320 kilometer, selama delapan jam, tentu akan melelahkan.

Untunglah pemandangan selama dalam perjalanan cukup menghiburku. Setelah melewati Kecamatan Indrapuri, sekitar 25 kilometer dari Banda Aceh, di kanan-kiri jalan membentang perladangan, hutan, dengan latar belakang perbukitan hijau.

Sampai di Taman Hutan Raya Cut Nyak Dhin, Saree, Aceh Besar, udara terasa sejuk. Sekitar sepuluh ekor kera duduk berjejer di tepi jalan sambil tolah-toleh tak jelas tujuannya. Seekor monyet besar kemerah-merahan nekat duduk di tengah jalan, di sebuah tikungan jalan menurun. Ulahnya merepotkan pengendara. “Kok, nggak takut, ya?” komentar seorang penumpang.

Colt L300 hitam yang kami tumpangi sempat ngetem setengah jam di Pasar Bireuen untuk mencari tambahan penumpang. Sekitar pukul empat sore, mobil melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Setelah 30 menit meninggalkan Kota Bireuen, mobil mulai mendaki pegunungan, melintasi jalan berkelok-kelok di bawah tebing. Dinginnya udara dataran tinggi Gayo mulai terasa.

Teganya hatimu padaku sayang…. Kau tinggal diriku sendiri. Aku tahu, semua pun tahu, hatiku hanyalah untukmu seorang…. Sialan, lagu itu lagi yang diputar, batinku, ketika mobil memasuki Kabupaten Bener Meriah. Sambil terpaksa terlena oleh lagu itu, aku menyaksikan keindahan tebing-tebing tinggi di sisi kanan, yang dilapisi hutan heterogen. Menoleh ke kiri, jurang curam menganga. Dari mobil, melihat ke bawah tampak bentang alam mempesona. Bukit-bukit yang puncaknya tampak dari atas, lembah ngarai, dan nun di kejauhan tampak perbukitan biru tua tersapu awan tipis.

“Baru pertama kali ini, ya, ke Takengon?” tanya penumpang di sampingku.
“Ya. Indah sekali tempat ini,” kataku sambil melirik ke kiri, ke lembah ngarai yang membentang luas, ketika mobil menekuk di tikungan tajam.
“Danau Laut Tawar lebih indah lagi,” katanya.

Danau itulah salah satu obyek wisata yang hendak aku kunjungi, dalam kesempatan cuti besar dari kantor tempatku bekerja.

“Di sini banyak tempat bagus,” ujar sopir, yang asli orang Takengon. “Ada juga pemandian air panas di Simpang Balik. Yang di atas paling panas, 70 derajat. Yang di bawah, dekat pasar, ndak begitu panas. Jorok tak terurus,” ujar si sopir sambil mengganti kaset yang katanya lagu khas Takengon.

Hujan rintik-rintik ketika mobil memasuki Kabupaten Aceh Tengah, melalui jalan berkelok-kelok, naik-turun. Di tengah hujan deras, sekitar pukul 19.00, mobil sampai di depan Hotel Triarga–penginapan pinggir pasar yang cocok untuk pelancong berkantong cekak.

Danau Laut Tawar terasa menggodaku untuk menyambanginya, ketika aku memandangnya dari jauh esok paginya. Danau itu hanya sekitar satu kilometer dari hotel tempatku menginap. Dinamakan Laut Tawar karena air danau ini tidak asin alias tawar. Ia berada di ketinggian 1.120 meter di atas permukaan air laut, berudara dingin, dengan suhu rata-rata 20 derajat Celsius. Danau di timur Kota Takengon itu seluas 5.817 hektare.

Tapi aku ingin melihatnya dari ketinggian terlebih dulu. Bersama dua pegiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat–yang baru kukenal di Takengon–kami meluncur ke utara, menjauh dari kota.

Di Singah Mata, tempat tinggi di tikungan jalan menanjak, sekitar lima kilometer dari kota, kami terpesona oleh keindahan danau nun jauh di bawah sana. Di antara sejuknya udara dan sepoi angin yang berembus dari lereng bukit kebun kopi, kami menyaksikan birunya danau.

“Kalau dari sana, kota dan danau akan terlihat semua. Indah sekali, Mas. Coba saja ke sana,” kata pemilik warung di Singah Mata sambil menunjuk ke puncak sebuah bukit.

Aku memandang ke puncak bukit di sisi barat. “Bukit apa itu?” tanyaku.
“Pantan Terong,” kata pelayan warung. “Besok kita ke sana,” kata Dwi Broto Agung Basuki, pegiat LSM yang sudah setahun tinggal di Takengon tapi belum pernah ke Pantan Terong. “Sekarang kita mau ke mana lagi?” tanyaku tak sabar ingin segera ke Pantan Terong. “Kita ke Bener Meriah dulu,” ujar Bening Sugianto, rekan Dwi Broto dari Yayasan Bina Usaha Lingkungan. Bening hendak menunjukkan hamparan kopi di Bener Meriah.

Melalui jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun di tepi tebing perbukitan, kami pun meluncur menuju kabupaten yang merupakan pemekaran dari Aceh Tengah itu. Di Desa Pondok Baru, Kecamatan Bandar, kami sempat mampir ke Balai Penelitian Kopi untuk menyaksikan pembibitan kopi. Delapan tahun silam, desa itu ditinggalkan penghuninya untuk mengungsi ke Takengon, saat konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia.

Aroma bunga kopi sudah tercium begitu memasuki desa-desa di Kecamatan Bandar. Di kiri-kanan jalan aspal berliku-liku, menghampar luas kebun kopi milik rakyat. Lereng-lereng bukit berlapis kebun kopi tampak dari kejauhan. Apalagi ketika memasuki Desa Buntul Kemumu, Kecamatan Permata. Wow, sejauh mata memandang, tampak kebun kopi semua.

Puas sudah menjelajahi perkebunan kopi. Hari sudah sore. Azan magrib terdengar dari masjid. Hujan turun. Kami pun kembali ke Takengon.

Kesempatan yang kutunggu untuk segera menikmati keindahan Danau Laut Tawar dari Pantan Terong belum juga tiba. Hari berikutnya, rekan-rekanku malah mengajak kembali ke Bener Meriah untuk mengunjungi monumen Radio Rime Raya (RRR), tepatnya di Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Tugu di belantara Rime Raya itu dibangun untuk mengenang jasa RRR dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ketika ibu kota Indonesia, waktu itu Yogyakarta, diduduki Belanda pada 1948, radio itu menyiarkan ke seluruh penjuru dunia bahwa Indonesia masih berdiri kukuh.

Capek juga menjelajahi beberapa tempat menarik di dua kabupaten itu. Sehari menjelang pulang ke Jakarta, barulah aku bisa menikmati Danau Laut Tawar dari Pantan Terong.

Dari pusat kota, puncak bukit itu hanya berjarak 7,5 kilometer. Persis di puncak bukit dengan tinggi 1.350 meter di atas permukaan laut itu berdiri gazebo, helipad, musala, dan kantin. Siang itu Pantan Terong sepi. Tapi pada waktu tertentu ramai, dengan berbagai atraksi kesenian tradisional, berupa tarian dan didong (berbalas pantun).

Yang menarik, dari Pantan Terong, kita bisa menyaksikan Danau Laut Tawar dan Kota Takengon secara utuh berikut perbukitan yang mengelilinginya. Kita juga leluasa memandang lapangan pacuan kuda di Kecamatan Pegasing, Bandara Rembele, dan hamparan kebun kopi di lereng-lereng bukit. Awan putih berarak di atas perbukitan–rasanya kami berada di atas awan.
Danau dengan air kebiru-biruan, dikelilingi gundukan-gundukan bukit, bayangan bukit samar-samar di air danau, bias cahaya matahari memantul dari permukaan air. Awan bergulung-gulung di atas perbukitan. Sungguh indah.

Selanjutnya, tiba saatnya untuk menyambangi danau itu. Sengaja kami memilih sore hari, untuk menikmati senja di tepi danau. Dari atas jembatan besi di atas sungai–yang merupakan luapan air danau–aku menyaksikan keramba-keramba di tepi sungai dan nelayan mencari ikan. Lalu, dengan mobil Kijang, kami mengelilingi danau melewati jalan aspal di lereng bukit pinus sepanjang tepian danau. Tak lupa, kami mampir di kedai persis di tebing tepi danau. Sambil menyeruput kopi Gayo yang terkenal itu, kami menyaksikan langit senja dan pantulan cahaya keemasan di permukaan air.

Gelap malam membungkus danau. Kami pun kembali ke penginapan. Kesan indah tentang danau, perbukitan, lembah ngarai, aroma kebun kopi kubawa pulang sebagai kenangan.

Sumber :www.korantempo.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Kategori:danau
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: