Beranda > makam > Secangkir Air Penguripan Pelepas Dahaga

Secangkir Air Penguripan Pelepas Dahaga

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Sejarah > Secangkir Air Penguripan Pelepas Dahaga

Secangkir Air Penguripan Pelepas Dahaga

Antrean panjang mengular di depan pintu gerbang makam Sunan Muria. Ratusan peziarah dengan sabar menunggu giliran masuk. Di dalam ruangan seluas 3 x 6 meter itu ada puluhan orang duduk bersila mengelilingi makam. Mereka tampak khusyuk. Ada yang berzikir, membaca tahlil, ada juga yang mulutnya komat-kamit, sepertinya sedang menyampaikan permintaan pribadi.
Beberapa menit kemudian, sebagian dari mereka keluar, digantikan orang yang sudah antre di mulut pintu. “Saya berdoa semoga dengan wasilahnya, permintaan kami dikabulkan,” kata Sudaryanto, 45 tahun, peziarah asal Lamongan, Jawa Timur, Minggu lalu.
Sudaryanto sehari-hari berdagang. Ia mengaku hampir setiap tahun berziarah ke makam Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga, Demak. Sudaryanto tidak sendirian, ia selalu datang bersama keluarganya.
Ada juga Surip, 58 tahun, asal Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, yang datang ke makam itu untuk memanjatkan doa kepada Allah agar pada musim tanam beberapa bulan mendatang tidak ada gangguan hama dan hasilnya melimpah. “Berdoa di makam orang-orang suci lebih didengar Allah,” ujar Surip.
Setelah keluar dari makam, para peziarah mendatangi juru kunci, yang sudah menyiapkan secangkir air yang diambil dari tempat penyimpanan, yakni sebuah gentong raksasa berdiameter sekitar lima meter. “Ini air penguripan,” ujar Dalwito, seorang pengurus makam.
Ternyata para pengunjung itu tak puas hanya minum secangkir. Dari rumah, mereka telah menyiapkan jeriken atau botol-botol bekas air mineral untuk diisi air gentong tersebut dan membawanya pulang.

Berebut air genthong peninggalan Sunan Muria

Selepas Ramadan, tempat wisata religius kembali dikunjungi peziarah, satu di antaranya makam Sunan Muria ini. Makam itu berada di belakang masjid di area seluas 1.000 meter persegi di puncak Gunung Muria, sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Dari Kota Kudus, ditempuh dengan kendaraan roda empat sekitar 30 menit. Persisnya, 18 kilometer ke arah utara Kota Kudus.
Di luar Ramadan, tempat ini tak pernah sepi. Ratusan bus dan mobil pribadi dari berbagai kota selalu memenuhi area parkir. Untuk sampai di makam, pengunjung harus berjalan melewati 950 undakan yang telah dipoles semen. Bila diukur dari gerbang gapura, jaraknya sekitar 4 kilometer.

Undakan tangga menuju gerbang Makam Sunan Muria

Bagi yang kesulitan berjalan, peziarah bisa mencapai makam dengan ojek lewat jalan memutar. Medannya cukup sulit, menanjak, terjal, sempit, dan di salah satu sisi jalan itu ada tebing curam.
Peziarah bisa datang sewaktu-waktu, siang maupun malam, karena listrik telah menerangi kawasan itu. Apalagi di sepanjang jalan, para pedagang kaki lima siap menemani dengan berbagai macam dagangan, dari makanan hingga suvenir, seperti pecel daun pakis dan tongkat pengusir tikus.
Pecel daun pakis merupakan menu khas daerah itu. Selain pecel, tersedia soto dan ayam goreng. Tapi jangan mencari masakan daging kambing. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat setempat, memotong kambing dilarang oleh Sunan Muria. Meski demikian, masyarakat kesulitan menjabarkan sebab-musabab munculnya larangan itu. Barangkali menyangkut kelestarian populasi hewan, agar tidak punah saja.
Bagi yang bermalam, kawasan wisata ini menyediakan penginapan. Ada pula masjid yang cukup bagus, wisata air terjun, dan arena bermain taman ria.
Setahun sekali, setiap seminggu setelah Lebaran, warga di lingkungan itu menyelenggarakan upacara Sewu Kupat (seribu ketupat). Tahun ini, tradisi tersebut dilaksanakan hari ini, dibuka oleh Bupati Kudus Mustofa. Ribuan warga berbondong-bondong sambil membawa ketupat ke Masjid Sunan Muria di depan makam.
Di situ, warga berdoa bersama, kemudian melakukan kirab ketupat dari masjid menuju taman ria. “Ribuan ketupat yang dikirap nantinya diperebutkan masyarakat yang datang,” kata Choirul Falak, Kepala Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus.
Sunan Muria, atau Umar Said, diperkirakan lahir pada abad ke-15. Salah satu walisanga itu adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Umar Said menikah dengan Dewi Sujinah, kakak kandung Sunan Kudus. Dalam berdakwah, Umar Said dikenal toleran. Dia melarang pengikutnya berdagang daging kambing atau menjual masakan seperti gulai dan sate.

Ilustrasi Sunan Muria

Umar Said berdakwah di wilayah pedesaan dan pegunungan. Dia pernah mendukung dipindahkannya Pesantren Ampel Denta ke Demak sepeninggal Sunan Ampel. Kala itu, Demak dipimpin Raden Patah.
Dalam berdakwah, Umar Said menggunakan sarana budaya, seperti gamelan dan wayang. Umar Said, yang dikenal sebagai pencipta tembang Sinom dan Kinanti, bagian dari seni macapat ini, meninggal pada abad ke-16. Dia dimakamkan di puncak Muria.
Kategori:makam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: