Arsip

Archive for the ‘taman nasional’ Category

Taman Nasional Kayan Mentarang

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Kayan Mentarang

Taman Nasional Kayan Mentarang

Taman Nasional Kayan Mentarang dengan luasnya 1.360.500 hektar, merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara.

Taman nasional ini memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa bernilai tinggi baik jenis langka maupun dilindungi, keanekaragaman tipe ekosistem dari hutan hujan dataran rendah sampai hutan berlumut di pegunungan tinggi. Keanekaragaman hayati yang terkandung di Taman Nasional Kayan Mentarang memang sangat mengagumkan.

Beberapa tumbuhan yang ada antara lain pulai (Alstonia scholaris), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), Agathis (Agathis borneensis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), rengas (Gluta wallichii), gaharu (Aquilaria malacensis), aren (Arenga pinnata), berbagai jenis anggrek, palem, dan kantong semar. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan yang belum semuanya dapat diidentifikasi karena merupakan jenis tumbuhan baru di Indonesia.

Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata dan lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik Kalimantan serta telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah.

Beberapa jenis mamalia langka seperti macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata), dan banteng (Bos javanicus lowi).

Sungai-sungai yang ada di taman nasional ini seperti S. Bahau, S. Kayan dan S. Mentarang digunakan sebagai transportasi menuju kawasan. Selama dalam perjalanan, selain dapat melihat berbagai jenis satwa yang ada di sekitar sungai, juga dapat melihat kelincahan longboat dalam melewati jeram, ataupun melawan arus yang cukup deras.
Keberadaan sekitar 20.000-25.000 orang dari berbagai kelompok etnis Dayak yang bermukim di sekitar kawasan taman nasional seperti Kenyah, Punan, Lun Daye, dan Lun Bawang, ternyata memiliki pengetahuan kearifan budaya sesuai dengan prinsip konservasi. Hal ini merupakan salah satu keunikan tersendiri di Taman Nasional Kayan Mentarang. Keunikan tersebut terlihat dari kemampuan masyarakat melestarikan keanekaragaman hayati di dalam kehidupannya. Sebagai contoh berbagai varietas dan jenis padi terpelihara dan terkoleksi dengan cukup baik untuk menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Banyak peninggalan arkeologi berupa kuburan dan alat-alat dari batu yang terdapat di taman nasional (umurnya lebih 350 tahun), dan diperkirakan merupakan situs arkeologi yang sangat penting di Kalimantan.

Sungai-sungai yang ada di taman nasional ini seperti S. Bahau, S. Kayan dan S. Mentarang digunakan sebagai transportasi menuju kawasan. Selama dalam perjalanan, selain dapat melihat berbagai jenis satwa yang ada di sekitar sungai, juga dapat melihat kelincahan longboat dalam melewati jeram, ataupun melawan arus yang cukup deras.

Keberadaan sekitar 20.000-25.000 orang dari berbagai kelompok etnis Dayak yang bermukim di sekitar kawasan taman nasional seperti Kenyah, Punan, Lun Daye, dan Lun Bawang, ternyata memiliki pengetahuan kearifan budaya sesuai dengan prinsip konservasi. Hal ini merupakan salah satu keunikan tersendiri di Taman Nasional Kayan Mentarang. Keunikan tersebut terlihat dari kemampuan masyarakat melestarikan keanekaragaman hayati di dalam kehidupannya. Sebagai contoh berbagai varietas dan jenis padi terpelihara dan terkoleksi dengan cukup baik untuk menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Banyak peninggalan arkeologi berupa kuburan dan alat-alat dari batu yang terdapat di taman nasional (umurnya lebih 350 tahun), dan diperkirakan merupakan situs arkeologi yang sangat penting di Kalimantan.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Pantai Pulau Datok dan Bukit Lubang Tedong. Wisata bahari dan berenang
Gunung Palung (1.116 m. dpl) dan Gunung Panti (1.050 m. dpl). Pendakian, air terjun, pengamatan tumbuhan/satwa dan berkemah.
Cabang Panti. Pusat penelitian dengan fasilitas stasiun penelitian, wisma peneliti dan perpustakaan.
Kampung Baru. Pengamatan satwa bekantan.
Sungai Matan dan Sungai Simpang. Menyelusuri sungai, pengamatan satwa dan wisata budaya (situs purbakala).

Atraksi budaya di luar taman nasional:
Keanekaragaman hayati bernilai tinggi dan masih alami, merupakan tantangan bagi para peneliti untuk mengungkapkan dan mengembangkan pemanfaatannya. Disamping itu keindahan alam hutan, sungai, tebing, kebudayaan suku Dayak merupakan daya tarik yang sangat menantang bagi para petualang dan wisatawan.

Musim kunjungan terbaik: bulan September s/d Desember setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi :
Cara pencapaian lokasi: Dari Samarinda ke Tarakan (plane) sekitar satu jam, dilanjutkan menggunakan speed boat/klotok menyusuri sungai Mentarang ke lokasi dengan waktu enam jam sampai satu hari.

Dinyatakan —
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 631/Kpts-II/1996
luas 1.360.500 hektar
Ditetapkan —
Letak Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur
Temperatur udara 16° – 30° C
Curah hujan Rata-rata 3.100 mm/tahun
Ketinggian tempat 200 – 2.558 meter dpl
Letak geografis 1°59’ – 4°24’ LU, 114°49’ – 116°16’ BT

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Berdasarkan klasifikasi tipe iklim Schmidt dan Ferguson, iklim di kawasan taman nasional termasuk iklim tipe A meliputi daerah semeru, tipe B dengan nilai Q sebesar 14,36% dan curaj hujan rata-rata 6604,4 mm/tahun. Kelembaban udara di sekitar laut pasir cukup tinggi yaitu maksimal mencapai 90 – 97% dan minimal 42 – 45% dengan tekanan udara 1007 – 1015,7 mm Hg. Suhu udara rata-rata berkisar antara 5°C – 22°C. Suhu terendah terjadi pada saat dini hari di puncak musim kemarau antara 3°C – 5°C bahkan di beberapa tempat sering bersuhu di bawah O°C (minus). Sedangkan suhu maksimum berkisar antara 20°C – 22°C.

Berdasarkan peta geologi Jawa dan Madura skala 1 : 500.000 dari Direktorat Geologi Indonesia tahun 1963, formasi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan hasil gunung api kuarter muda sampai kuater tua. Sedangkan topografi taman nasional berada pada ketinggian 750 – 3.676 m dpl, keadaan topografinya bervariasi dari bergelombang dengan lereng yang landai sampai berbukit bahkan bergunung dengan derajat kemiringan yang tegak. Secara umum kawasan taman nasional merupakan dataran tinggi yang terdiri dari komplek Pegunungan Tengger di utara dan komplek Gunung Jambangan di sebelah selatan.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun.

Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional merupakan suku asli yang beragama Hindu. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Uniknya, melihat penduduk di sekitar (Su-ku Tengger) tampak tidak ada rasa ketakutan walaupun menge-tahui Gunung Bromo itu berbahaya, termasuk juga wisatawan yang banyak mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada saat Upacara Kasodo.

Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun (Desember/Januari) pada bulan purnama. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Perebutan sesaji tersebut merupakan atraksi yang sangat menarik dan menantang sekaligus mengerikan. Sebab tidak jarang diantara mereka jatuh ke dalam kawah.

1. Komplek Gunung Semeru
Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi (3.676 m dpl) di Pulau Jawa. Mahameru adalah nama lain dari Puncak Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 m dpl) dengan kawahnya yang menganga lebar yang disebut Jonggring Saloko. Karena merupakan gunung tertinggi, maka dari puncak Gunung Semeru dapat dinikmati pemandangan alam yang mempesona, yakni ke:

* sebelah barat tampak kota Malang;
* sebelah utara tampak Gunung Kepolo dan Pegunungan Tengger;
* sebelah selatan tampak garis pantai selatan;
* sebelah timur tampak Gunung Argopuro.

Dikalangan pecinta alam baik pendaki lokal, regional, nasional, bahkan pendaki dari luar negeri (terutama Perancis) Gunung Semeru merupakan sasaran pendakian sepanjang tahun. Bahkan pada beberapa tahun terakhir setiap tanggal 17 Agustus Gunung Semeru dikunjungi ribuan pendaki.

Beberapa obyek disepanjang rute menuju Gn. Semeru yang biasa dilalui pendaki adalah:

* Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo (8 ha) terletak pada ketinggian 2390 m dpl antara Ranu Pani dan Gn. Semeru. Secara historis geologis, Ranu Kumbolo terbentuk dari massive kawah G. Jambangan yang telah memadat sehingga air yang tertampung secara otomatis tidak mengalir ke bawah secara gravitasi. Ranu Kumbolo hingga saat ini merupakan potensi obyek wisata yang menarik. Daya tariknya antara lain bahwa pada lapangan yang relatif tinggi dari permukaan laut terdapat danau/telaga dengan airnya yang jernih sehingga banyak menarik wisatawan untuk mengunjungi tempat ini. Bagi para pendaki, Ranu Kumbolo, merupakan tempat pemberhentian/istirahat sambil mempersiapkan perjalanan berikutnya. Daya tariknya, di pinggir sebelah barat danau terdapat prasasti peninggalan purbakala. Diduga prasasti ini merupakan peninggalan jaman kejayaan Kerajaan Majapahit, namun hingga saat ini belum diperoleh kepastian.

Khusus di perairan danau, kita dapat menyaksikan kehidupan satwa migran burung belibis. Bagi para pengamat lingkungan, Ranu Kumbolo sebetulnya merupakan laboratorium alam yang cocok bagi kegiatan penelitian dan observasi lapangan yang sarat dengan kandungan ilmu pengetahuan. Fasilitas yang ada di Ranu Kumbolo yaitu Pondok Pendaki (70 M2) dan MCK yang dimanfaatkan para pendaki untuk beristirahat, disamping terdapatnya lapangan yang relatif datar untuk sarana berkemah. Kebutuhan air dapat terpenuhi dari air danau.

* Kalimati

Kalimati merupakan tempat berkemah terakhir bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanannya menuju puncak Mahameru. Tempat ini biasa digunakan beristirahat dikarenakan terdapat sumber air (Sumber Mani) yang berjarak sekitar 500 Km dari Kalimati. Disamping terdapat tanah lapang yang relatif datar juga sudah dibangun fasilitas Pondok Pendaki dan MCK. Suhu udara di Kalimati relatif dingin jika dibanding tempat lainnya, dikarenakan daerah kalimati merupakan lembah dari beberapa bukit/gunung-gunung di sekitarnya.

* Arcopodo

Arcopodo/Recopodo terletak pada pertengahan Kalimati dan Gunung Semeru. Di tempat ini terdapat dua buah arca kembar yang dalam bahasa Jawa dinamakan arco podo/reco podo. Disamping itu juga terdapat beberapa monumen korban meninggal atau hilang pada saat pendakian G. Semeru. Tempat ini sering pula dimanfaatkan pendaki untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya ke puncak Mahameru.

* Padang Rumput Jambangan

Daerah padang rumput ini terletak di atas 3200 m dpl, merupakan padang rumput yang diselang-selingi tumbuhan cemara, mentigi dan bunga Edelwis. Topografi relatif datar pada jalur pendakian ini, beberapa tempat yang teduh menampakkan sebagai tempat istirahat yang ideal untuk menikmati udara yang sejuk. Dari tempat ini terlihat G. Semeru secara jelas menjulang tinggi dengan kepulan asap menjulang ke angkasa serta guratan/alur lahar pada seluruh tebing puncak yang mengelilingi berwarna perak. Di tempat ini para pendaki maupun fotografer sering mengadakan atraksi keunikan dan gejala alam gunung api yang selalu mengeluarkan asap dan debu, merupakan suatu panorama alam yang menakjubkan.

* Oro – Oro Ombo

Daerah ini merupakan padang rumput yang luasnya sekitar 100 ha berada pada sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit gundul dengan type ekosistem asli tumbuhan rumput. Lokasinya berada di bagian atas tebing yang bersatu mengelilingi Ranu Kumbolo. Padang rumput ini mirip sebuah mangkok berisikan hamparan rumput yang berwarna kekuning-kuningan, kadang-kadang pada beberapa tempat terendam air hujan.

* Cemoro Kandang

Kelompok hutan cemorokandang termasuk gugusan Gunung Kepolo (3.095 m), terletak di sebelah selatan dari padang rumput Oro-Oro Ombo. Merupakan hutan yang didominasi pohon cemara (Casuarina junghuniana) dan paku-pakuan.

* Pangonan Cilik

Pangonan cilik merupakan kawasan padang rumput yang terletak di lembah Gunung Ayek-Ayek yang letaknya tidak jauh dari Ranu Gumbolo. Asal usul nama tersebut oleh masyarakat setempat dikarenakan kawasan ini mirip padang penggembalaan ternak (pangonan). Daya tarik dari kawasan ini adalah merupakan lapangan yang relatif datar di tengah-tengah kawasan yang di sekitarnya dengan konfigurasi berbukit-bukit gundul yang bercirikan rumput sebagai type ekosistem asli, sehingga memberikan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

2. Komplek Bromo Tengger

* Kaldera Tengger

Daya tarik utama TN-BTS adalah gejala alam yang unik dan spektakuler yang dapat dinikmati dan didekati dengan mudah. Kaldera Tengger dengan 5 (lima) buah gunung yang berada didalamnya merupakan daya tarik tersendiri, termasuk kisah geologi terbentuknya gunung-gunung tersebut. Kaldera Tengger ini secara administrasi pemerintahan terdapat di Kab. Probolinggo. Desa terdekat dari Kaldera Tengger adalah Cemorolawang (±45 Km dari Probolinggo), dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum atau carter jeep. Sedangkan dari Cemorolawang apabila ingin turun dan menyusuri lautan pasir Kaldera Tengger dapat menggunakan kuda, jeep atau jalan kaki. Fasilitas yang tersedia di Cemorolawang relatif lengkap antara lain shelter, plasa, penginapan (hotel, homestay, dll), rumah makan, wartel, souvenir shop, MCK umum, dll.

* Gunung Bromo

Gunung Bromo merupakan salah satu gunung dari lima gunung yang terdapat di komplek Pegunungan Tengger di laut pasir. Daya tarik gunung ini adalah merupakan gunung yang masih aktif dan dapat dengan mudah didaki/dikunjungi. Obyek wisata Gunung Bromo ini merupakan fenomena dan atraksi alami yang merupakan salah satu daya tarik pengunjung. Kekhasan gejala alam yang tidak ditemukan di tempat lain adalah adanya kawah di tengah kawah (creater in the creater) dengan hamparan laut pasir yang mengelilinginya.

Bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat dan menghirup aroma asap vulkanik wisatawan dapat naik ke puncak Bromo. Untuk sampai di puncak G. Bromo telah disediakan tangga dari beton. Bila kita sampai di puncak maka tampak kawah Bromo yang menganga lebar dengan kepulan asap yang keluar dari dasarnya yang menandakan gunung ini masih aktif. Dari puncak inilah pengunjung dapat menikmati/menyaksikan kawah Bromo dengan kepulan-kepulan asapnya yang relatif tipis, serta ke arah belakang dapat menyaksikan keindahan panorama hamparan laut pasir dengan siluet alamnya yang mempesonakan.

Daya tarik lainnya, adalah bahwa gunung ini merupakan tempat bagi berlangsungnya acara puncak upacara ritual masyarakat Tengger (Kasada) yakni berupa pelemparan hasil bumi sebagai persembahan ke kawah Gunung Bromo. Upacara inilah yang menarik wisatawan untuk menyaksikan acara yang hanya berlangsung satu tahun sekali.

* Gua/Gunung Widodaren

Gunung/Gua Widodaren ini letaknya di sebelah Gunung Batok dan merupakan potensi obyek wisata yang mempunyai daya tarik tersendiri. Salah satu daya tarik obyek ini adalah bahwa lokasi ini merupakan tempat keramat berupa gua dan sumber air suci.

Pada bagian dalam gua terdapat tempat yang agak luas dan didalamnya terdapat batu besar (sebagai altar) untuk menempatkan sesajian atau menaruh nadar yang sekaligus sebagai tempat bersemedi khususnya masyarakat Tengger untuk memohon kepada Sang Hyang Widi. Masih di sekitar gua, tepatnya di bagian samping gua tedapat sumber air yang tak pernah kering. Menurut kepercayaan masyarakat Tengger air dari sumber tersebut merupakan air suci yang mutlak diperlukan bagi peribadatan mereka, misalnya sebagai contoh dalam Upacara Kasada pasti didahului dengan Upacara pengambilan air suci dari Gua Widodaren (Medhak Tirta). Disamping itu pada masyarakat Tengger ada kepercayaan bahwa khasiat air dari gua ini dapat membuat awet muda seseorang serta dapat mendekatkan jodoh bagi yang lajang.

Untuk dapat mencapai obyek ini, telah dibuat jalan setapak yang sempit dengan kemiringan yang agak curam. Untuk itu kepada pengunjung disarankan untuk berhati-hati pada saat berjalan melalui jalan ini. Daya tarik lainnya, bila kita sudah tiba di gua, kita akan dapat menyaksikan pemandangan alam yang indah kebagian bawah yakni laut pasir dan sekitarnya. Suasana indah yang lebih mengagumkan lagi manakala kita menikmati panorama ini disaat fajar dengan kemilau mentari kekuning-kuningan tampak di hadapan kita.

* Gunung Batok

Gunung Batok terletak di sebelah Gn. Bromo dan menjadi pemandangan yang menyatu dengan Gn. Bromo. Daya tarik utama adalah gunung ini merupakan habitat edelwis.

* Gunung Pananjakan

Puncak G. Pananjakan merupakan tempat yang tertinggi bila dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya di Komplek Pegunungan Tengger. Oleh karenanya di kawasan ini kita dapat menyaksikan keindahan alam di bagian bawah seperti panorama laut pasir dengan komplek Gunung Bromo Dsk. yang dilatarbelakangi G. Semeru dengan kepulan asapnya yang tebal. Dari puncak Pananjakan ini dapat disaksikan/dinikmati pula indahnya matahari terbit di ufuk timur berwarna kekuning-kuningan muncul dari balik perbukitan. Kita dapat menikmati suasana tersebut di atas dalam suasana hening dan tenteram tanpa kebisingan dan kegaduhan.

Gn. Pananjakan secara administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Kab. Pasuruan. Rute terdekat untuk mencapai Gn. Pananjakan adalah dari Pasuruan menggunakan angkutan umum sampai Tosari ±40 Km, dilanjutkan dengan sewa jeep ±17 Km. Fasilitas yang tersedia berupa shelter, plaza, MCK, dan cafetaria.

B. Potensi Obyek Wisata Budaya

1. Pure Agung Poten

Pura Agung Poten yang berada di tengah-tengah lautan pasir ini merupakan salah satu pusat peribadatan umat Hindu Tengger.

2. Gua Widodaren

Gua Widodaren merupakan salah satu tempat penting dalam ritual masyarakat Tengger. Pada bagian dalam gua terdapat tempat yang agak luas dan didalamnya terdapat batu besar (sebagai altar) untuk menempatkan sesajian atau menaruh nadar yang sekaligus sebagai tempat bersemedi khususnya masyarakat Tengger untuk memohon kepada Sang Hyang Widi. Masih di sekitar gua, tepatnya di bagian samping gua terdapat sumber air yang tak pernah kering. Menurut kepercayaan masyarakat Tengger air dari sumber tersebut merupakan air suci yang mutlak diperlukan bagi peribadatan mereka, sebagai contoh adalah upacara pengambilan air suci dari Gua Widodaren (Medhak Tirta) yang dilakukan sebelum Upacara Kasada. Disamping itu air dari gua ini dipercaya masyarakat Tengger berkhasiat dapat membuat awet muda serta mendekatkan jodoh bagi yang lajang.

3. Sumur Pitu/Gua Lava

Sumur lava ini berada di tengah Kaldera Tengger tepatnya di laut pasir Blok Kutho, dari kejauhan tampak seperti tumpukan bata bekas kerajaan. Masyarakat setempat menamakan sumur/gua lava ini sebagai Sumur Pitu. Sumur Pitu/Gua Lava ini terbentuk dari proses geo vulkanik yang merupakan proses dari letusan Gunung Bromo.

4. Pura/Padanyangan Rondo Kuning

Pura kecil atau disebut Pedanyangan ini merupakan tempat peribadatan umat Hindu Tengger yang ada di Ranu Pani. Jika dilihat dari arah utara, pemandangannya sangat bagus, karena lokasinya berada pada tanah yang menjorok ke danau (seperti tanjung). Pure ini dibangun pada tahun 1996 dan direhabilitasi tahun 2001 oleh Pengelola Pura Mandara Giri Semeru Agung – Senduro bersama-sama dengan umat Hindu di Ranu Pani. Pada waktu-waktu tertentu (hari besar umat Hindu) penganut Hindu setempat dan luar kota melakukan ibadah di Pure Rondo Kuning. Menurut pengelola/pengurus Pure tersebut (Mandara Giri Semeru Agung), rangkaian upacara ritual Hindu di Ranu Pani berbeda dengan rangkaian upacara di Gunung Bromo, namun pada upacara besar (Kasada) salah satu lokasi pengambilan air suci adalah Ranu Pani.

5. Prasasti Ranu Kumbolo

Prasasti ini terletak di tepi danau Ranu Kumbolo. Diduga prasasti ini masih terkait dengan peninggalan Kerajaan Majapahit, yang menceritakan perjalanan Mpu Kameswara untuk mencapai kesucian atau kesempurnaan diri.

6. Prasasti Arcopodo

Arcopodo/recopodo terletak diantara Kalimati dan Gunung Semeru. Ditempat ini terdapat dua buah arca kembar yang dalam bahasa Jawa dinamakan arcopodo/recopodo. Disamping itu juga terdapat beberapa monumen korban meninggal atau hilang pada saat pendakian G. Semeru. Tempat ini sering dimanfaatkan pendaki untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalannya ke puncak Mahameru.

7. Pure Ngadas

Desa Ngadas merupakan enclave TN-BTS yang berada di Seksi Konservasi Wilayah III tepatnya di Resort Ngadas. Penduduk asli Ngadas adalah suku Tengger yang mayoritas memeluk agama Hindu. Salah satu tempat peribadatan masyarakat Tengger di Ngadas adalah Pure Ngadas.

8. Vihara Ngadas

Selain ama Hindu masyarakat Ngadas juga banyak yang menganut agama lain, salah satu agama yang dianut masyarakat setempat adalah agama Budha dengan aliran Budha Kejawen. Vihara ini merupakan tempat beribadah penganut Budha di Ngadas. Di malam hari dapat didengar lagu pujian terhadap sang Budha.

C. Kegiatan Wisata Alam dan Budaya

Kegiatan wisata alam dan budaya yang dapat dikembangkan untuk dilakukan di TN-BTS antara lain adalah:

1. Melihat Matahari Terbit (Sunrise)

Salah satu potensi kawasan TN-BTS adalah terdapatnya tempat-tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit. Dari tempat tersebut tidak saja dapat dilihat matahari terbit dengan sinar merah kekuning-kuningan akan tetapi pemunculan matahari dari balik landscape gejala alam itulah yang merupakan pemandangan yang spektakuler. tempat-tempat dimana kita dapat menyaksikan indahnya matahari terbit antara lain di puncak gunung Penanjakan dan gunung Bromo.

Untuk dapat menyaksikan matahari terbit, pengunjung datang ke TN-BTS pada tengah malam atau pagi dini hari. Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan matahari terbit dari Gunung Pananjakan, disarankan sekitar pukul 03.30 – 04.00 pagi dini hari harus sudah berada di Puncak Pananjakan. Selain menikmati indahnya matahari terbit di ufuk timur, pada pagi menjelang siang dapat menikmati indahnya pemandangan hamparan laut pasir dan kelima gunung di sekitarnya yang masih diselimuti kabut. Membuat foto dengan latar belakang laut pasir sangat bagus di tempat ini.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati matahari terbit dari G. Bromo, diharapkan malam hari atau pagi dini hari sudah sampai di Cemorolawang, lalu pagi hari sekitar pukul 03.30 – 04.00 WIB, perjalanan dilanjutkan dengan naik kuda atau jalan kaki ke Gunung Bromo. Di puncak Bromo dapat disaksikan proses pemunculan matahari dibalik perbukitan yang indah, setelah itu dapat menyaksikan panorama sekitar, membuat foto dan terus kembali ke Cemorolawang.

2. Melihat Gunung Bromo

Adakalanya pengunjung tidak berkunjung pada pagi dini hari tetapi hanya ingin melihat panorama kawasan gunung Bromo dan sekitarnya. Pola kunjungan seperti ini terjadi pada pagi atau siang hari dan langsung menuju gunung Bromo dengan jalan kaki atau naik kuda. Karena suhu udara lebih hangat pada siang hari, biasanya pengunjung berisitirahat di Cemorolawang untuk beberapa jam sambil jalan-jalan melihat sekitar tempat tersebut.

3. Mengelilingi Kaldera Tengger

Beberapa pengunjung (kebanyakan wisatawan mancanegara) mendatangi TN-BTS khusus melihat dan menikmati panorama komplek Gunung Bromo dan sekitarnya. Pola demikian biasanya dilakukan dengan membawa perlengkapan secukupnya dan kegiatan yang dilakukan antara lain mendaki gunung Bromo dilanjutkan dengan perjalanan ke Segorowedi Lor (selatan G. Bromo) kemudian kembali melalui tangga G. Bromo.

Kegiatan lain yang dapat dinikmati di komplek ini adalah setelah mengunjungi G. Bromo, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Gunung/Gua Widodaren. Di Gua ini dapat dinikmati indahnya pemandangan laut pasir dan sekitarnya serta terdapatnya sumber air jernih yang tak pernah kering sepanjang tahun.

4. Mendaki G. Semeru

Kegiatan pendakian ke G. Semeru mengambil route Malang – Tumpang – Ranu Pani – Ranu Kumbolo – G. Semeru. Desa/pedukuhan terakhir yang dapat dijumpai oleh pengunjung dalam kegiatan ini adalah Dukuh Ranu Pani dan pendaki wajib melapor ke petugas TN-BTS serta memeprsiapkan segala perbekalan dan perlengkapannya.

5. Menyaksikan Upacara Kasodo

Upacara Kasodo merupakan hari besar bagi masyarakat Tengger untuk memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 bulan purnama, bulan ke dua belas (Kasada) menurut penanggalan masyarakat Tengger. Upacara diselenggarakan di Pura Poten di lautan pasir dan Gunung Bromo. Dalam upacara Kasada ini dibuat sesajen yang disebut Ongkek berupa bambu berbentuk setengah lingkaran yang dihiasi 30 macam buah-buahan dan kue. Bahan untuk membuat ongkek ini diambil dari desa yang selama satu tahun tidak ada warganya yang meninggal dunia. Setelah diberi mantra, ongkek ini oleh seorang dukun dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.

Dalam upacara Kasada ini selain ada pelemparan sesajen juga ada pengucapan mantra atau doa yang dipimpin oleh dukun sebagai puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa, atas berkat dan kasih sayangnya kepada umat manusia, pelantikan calon dukun baru (Diksi Widhi) dan upacara penyucian umat (Palukatan).

6. Agrowisata Pedesaan

Agrowisata ini dapat dilakukan di kebun/ladang hortikultura milik penduduk setempat. Lokasi terdekat adalah kebun yang berada di sekitar danau Ranu Pani/Ranu Regulo, di Desa Ngadas, Wonokitri dan di sekitar Cemorolawang. Di ladang hortikultura ini pengunjung dapat melihat proses budidaya tanaman hortikultura yang dikembangkan masyarakat setempat serta menikmati hasil pertanian langsung dari ladang. Kemampuan/ketrampilan mereka dalam bertani di lahan dengan kemiringan hampir 90° juga merupakan atraksi yang menarik.

7. Wisata Danau

Wisata Danau merupakan kegiatan wisata utama yang dapat dikembangkan di sekitar Ranu Pani dan Ranu Regulo. Jenis kegiatan wisata danau yang dapat dilakukan antara lain adalah berperahu mengelilingi danau, berenang, menyelam, dan memancing.

Berperahu dapat dilakukan di danau Ranu Pani karena kondisi fisik danau yang cukup luas dan pemandangan sekitar yang cukup menarik, sehingga mendukung lalu lintas berperahu sambil menikmati pemandangan. Letak danau Ranu Pani yang lebih dekat dengan pintu masuk diharapkan dapat mendukung kegiatan wisata konvensional. Sarana yang diperlukan adalah sepeda air, perahu dayung, perahu rakit (gethek). Jenis transportasi air tersebut dimaksudkan untuk menyediakan sarana rekreasi berdasarkan kelompok umur dan minat pengunjung, serta tantangan yang dikehendaki oleh pengunjung. Sebagai gambaran : untuk keluarga dan anak-anak, disediakan sepeda air. Remaja dan petualang bisa memakai perahu dayung dan rakit (selain sepeda air). Untuk itu diperlukan darmaga untuk pelabuhan transportasi air dan tempat berkumpulnya pengunjung yang hendak berperahu. Selain itu perlu disediakan peralatan renang dan menyelam yang dapat digunakan/disewa oleh pengunjung yang ingin merasakan kesejukan air Ranu Pani.

Memancing dapat dilakukan di danau Ranu Pani dan Ranu Regulo. Dalam rangka pengaturan pengunjung, perlu ditentukan lokasi-lokasi tertentu untuk pemancingan, misalnya di bawah pohon rindang yang ada di tepi danau. Bagi yang menyukai ketenangan memancing di Ranu Regulo dapat menjadi pilihan. Danau Ranu Regulo kondisinya relatif lebih alami, sehingga upaya pemanfaatannya akan lebih baik jika untuk wisata terbatas yang intinya kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan bina cinta alam. Persewaan alat pancing dan pakan/umpan dapat diusahakan untuk pengunjung yang tidak membawa peralatan sendiri.

8. Berkemah

Selain dari kegiatan tersebut, adakalanya kunjungan dilaksanakan dengan cara berkemah di dalam kawasan TN-BTS selama beberapa malam secara rombongan. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh pengunjung yang berasal dari generasi muda (pecinta alam, pelajar, mahasiswa, karang taruna, dll).

Lokasi yang disediakan untuk kegiatan berkemah di dalam kawasan TN-BTS antara lain terdapat di Camping Ground Cemorolawang, Nongkojajar, Ranu Pani, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan.

Khusus untuk Camping Ground di Ranu Pani, biasanya tempat ini dipakai oleh para pecinta alam terutama dari Malang untuk mengadakan pembinaan terhadap anggota baru serta melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya. Sedangkan untuk camping ground lainnya sudah sering digunakan oleh lembaga pendidikan (SD, SMP, SMA) terdekat untuk membina siswanya tentang kepramukaan, cinta alam dan kegiatan lainnya dengan cara berkemah.

9. Menanam Pohon di Arboretum

Kegiatan ini dapat dilakukan di blok hutan Pusung Bingung dan Gunung Gending yang berada di sekitar Ranu Pani dan Regulo yang akan dijadikan sebagai lokasi arboretum. Dengan mengikuti Paket Wisata Arboretum, wisatawan dapat melakukan kegiatan menanam pohon yang dipandu petugas, Keperluan bibit, peralatan (cangkul, sekop, papan nama, dll) tenaga pendamping dan sertifikat disediakan oleh pengelola kawasan. Setiap pohon yang ditanam diberi identitas penanam (wisatawan) beserta tanggal penanaman. Jenis tumbuhan yang ditanam adalah jenis yang ada di TN-BTS. Selain bertujuan untuk rekreasi dan bina cinta alam, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk membantu program rehabilitasi kawasan.

Untuk mendukung kegiatan paket wisata ini, diperlukan sarana berupa rumah bibit dan peralatan tanam, serta tenaga pemandu penanaman dan adminitrasi. Untuk menambah pengetahuan bagi pengunjung yang ingin mengetahui kondisi Arboretum juga diperlukan pusat informasi khusus Arboretum. Dalam pusat informasi ini disediakan berbagai herbarium koleksi tanaman yang ada dan akan ditanam di Arboretum serta informasi lain yang menyangkut Arboretum.

III. POTENSI OBYEK WISATA ALAM DAN JASA LINGKUNGAN YANG BELUM DIKEMBANGKAN

1. Danau Ranu Pani – Regulo

Ranu Pani (1 ha) dan Ranu Regulo (0,75 ha) merupakan dua dari empat danau yang terdapat di TN-BTS. Untuk mencapai Ranu Pani – Regulo dapat melalui dua jalur yaitu dari arah Lumajang melalui Senduro (±50 Km) dan dari arah Tumpang – Malang (±53 Km). Kedua danau ini berada pada ketinggian 2.200 meter dari muka laut memiliki keindahan alam cukup menarik. Dari tempat ini kita dapat menyaksikan keindahan panorama G. Semeru dengan kepulan asapnya, menikmati keindahan alam sekitar danau, mengamati kehidupan satwa liar khususnya satwa migran burung belibis, dan mengamati budaya/adat istiadat penduduk setempat. Di Desa Ranu Pani yang merupakan desa terdekat dengan danau Ranu Pani terdapat beberapa warung yang menjajakan keperluan makan minum dan perbekalan pendaki. Disamping itu di dukuh ini terdapat beberapa orang penduduk yang biasa mengantar/membawakan barang-barang pendaki hingga ke puncak Mahameru (porter). Fisilitas yang tersedia di Ranu Pani – Regulo antara lain Pondok Pendaki, Pondok Jaga, Pusat Informasi, Pondok Peneliti, MCK, dan Camping Ground. Meskipun sudah ada kegiatan camping, dan penelitian di kawasan tersebut, Danau Ranu Pani belum menjadi tujuan utama pengunjung; para pendaki hanya memanfaatkan sebagai tempat singgah sebelum mendaki Gn. Semeru.


2. Hutan Alam (Ledok Malang – Ireng-ireng)

Hutan di sepanjang jalur Ledok Malang – Ireng-ireng merupakan hutan alam tropis yang didominasi oleh tumbuhan sepat, suren, rotan, lianan, piji, bambu, pisang. Satwa liar yang dapat dijumpai di blok tersebut adalah jenis burung, macan tutul, babi hutan, rusa, lutung. Sedangkan di hutan alam sepanjang jalur pendakian (Ranu Pani – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo) didominasi oleh tumbuhan sepat, suren, rotan, liana, piji, cemara, senduro, anggrek dan edelwis.

Terdapat tebing batu bernama Waturejeng yang dapat digunakan sebagai latihan panjat tebing. Juga terdapat padang rumput Klosot dengan tumbuhan khas padi semeru.

3. Ranu Darungan

Ranu Darungan merupakan salah satu dari empat danau yang terdapat di TN-BTS tepatnya Seksi Konservasi Wilayah II, Resort Pronojiwo. Secara administrasi pemerintahan Ranu Darungan termasuk dalam wilayah Kab. Lumajang di Dukuh Darungan Desa Pronojiwo Kecamatan Pronojiwo. Untuk mencapai Ranu Darungan dari Pronojiwo hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum, kondisi jalan yang ada masih merupakan jalan makadam.

Danau/Ranu Darungan mempunyai luas sekitar ±0,5 Ha, terletak pada ketinggian diatas 750 m dari permukaan laut. Berdasarkan kejadian/proses pembentukannya, sebetulnya Ranu Darungan merupakan semacam penampungan dari aliran lahar dingin yang melalui proses demikian lama hingga akhirnya aliran tersebut dialiri air.

Daya tarik Ranu Darungan terutama adalah kekhasan alam yaitu adanya hutan di sekitar danau yang relatif masih terjaga kondisinya. Di Ranu Darungan pengunjung bisa menikmati suasana alam yang tenang dan dapat menyaksikan keanekaragaman flora dan fauna, termasuk satwa liar yang hidup bebas. Pengunjung juga dapat berkemah dan memancing.

4. Blok Adasan

Blok Adasan terletak di laut pasir sebelah tenggara ke arah Jemplang. Dinamakan adasan karena merupakan habitat dari adas (Foeniculum vulgare). Hal yang unik dari blok ini adalah proses suksesi dari tumbuhan adas. Di musim kemarau tumbuhan ini sengaja dibakar oleh masyarakat agar muncul permudaan (trubusan) yang lebih baik di musim penghujan. Selain itu penyebarannya berpindah-pindah menurut arah angin yang menyebarkan bijinya.

5. Hutan Pananjakan – Dingklik

Hutan di Blok Pananjakan – Dingklik merupakan hutan campuran yang didominasi cemara dan akasia decuren, dan tumbuhan daun lebar lainnya. Blok ini merupakan habitat ayam hutan. Selain itu juga terdapat sumber air yang sangat penting bagi masyarakat sekitar, pengusaha hotel, camp intelijen, dan kantor TN-BTS di Seksi Konservasi Wilayah I.

Cara pencapaian lokasi:

Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km, Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 km, dan Jemplang-Ranu Pani-Ranu Kumbolo, 16 km. Atau dari Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km. Dari Malang ke Ranu Pani menggunakan mobil sekitar 70 menit, yang dilanjutkan berjalan kaki ke Puncak Semeru sekitar 13 jam.

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 278/Kpts-VI/97 dengan luas 50.276,2 hektar
Ditetapkan —-
Letak Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Kab.
Lumajang, dan Kab. Malang, Provinsi
Jawa Timur
Temperatur udara 3° – 20° C
Curah hujan Rata-rata 6.600 mm/tahun
Ketinggian tempat 750 – 3.676 m. dpl
Letak geografis 7°51’ – 8°11’ LS, 112°47’ – 113°10’ BT

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Meru Betiri

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Meru Betiri

Taman Nasional Meru Betiri

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi flora, fauna dan ekosistem serta gejala dan keunikan alam yang dapat dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA).

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan hujan tropis dengan formasi hutan bervariasi yang terbagi ke dalam 5 tipe vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan mangrove, vegetasi hutan rawa, vegetasi hutan rheophyte dan vegetasi hutan hujan dataran rendah. Keadaan hutannya selalu hijau dan terdiri dari jenis pohon yang beraneka ragam serta bercampur jenis bambu yang tersebar di seluruh kawasan ini. Kondisi setiap tipe vegetasi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tipe Vegetasi Hutan Pantai
Formasi vegetasi hutan pantai terdiri dari 2 tipe utama yaitu formasi ubi pantai (Ipomea escaprae), dan formasi Barringtonia (25 – 50 m) pada daerah pantai yang landai dan akan berkurang luasnya jika pantainya terjal dan berbatu. Jenis yang paling banyak adalah ubi pantai (Ipomoea pescaprae) dan rumput lari (Spinifex squarosus). Formasi Baringtonia terdiri dari keben (Baringtonia asiatica), nyamplung (Calophyllum inophyllum), waru (Hibiscus tiliaceus), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus tectorius) dan lain-lain

Tipe Vegetasi Hutan Mangrove
Vegetasi ini dapat dijumpai di bagian timur Teluk Rajegwesi yang merupakan muara Sungai Lembu dan Karang Tambak, Teluk Meru dan Sukamade merupakan vegetasi hutan yang tumbuh di garis pasang surut. Jenis-jenis yang mendominasi adalah Pedada (Sonneratia caseolaris), Tancang (Bruguiera gymnorhiza) dan Nipah (Nypa fructicans).

Tipe Vegetasi Hutan Rawa
Vegetasi ini dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade. Jenis-jenis yang banyak dijumpai diantaranya mangga hutan (Mangifera sp), sawo kecik (Manilkara kauki), ingas/rengas (Gluta renghas), pulai (Alstonia scholaris), kepuh (Sterculia foetida), dan Barringtonia spicota.

Tipe Vegetasi Hutan Rheophyt
Tipe vegetasi ini terdapat pada daerah-daerah yang dibanjiri oleh aliran sungai dan jenis vegetasi yang tumbuh diduga dipengaruhi oleh derasnya arus sungai, seperti lembah Sungai Sukamade, Sungai Sanen, dan Sungai Bandealit. Jenis yang tumbuh antara lain glagah (Saccharum spontanum), rumput gajah (Panisetum curcurium) dan beberapa jenis herba berumur pendek serta rumput-rumputan.

Tipe Vegetasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah
Sebagian besar kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri merupakan tipe vegetasi hutan hujan tropika dataran rendah. Pada tipe vegetasi ini juga tumbuh banyak jenis epifit, seperti anggrek dan paku-pakuan serta liana. Jenis tumbuhan yang banyak dijumpai diantaranya jenis walangan (Pterospermum diversifolium), winong (Tetrameles

nudiflora), gondang (Ficus variegata), budengan (Diospyros cauliflora), pancal kidang (Aglaia variegata), rau (Dracontomelon mangiferum), glintungan (Bischoffia javanica), ledoyo (Dysoxylum amoroides), randu agung (Gossampinus heptaphylla), nyampuh (Litsea sp), bayur (Pterospermum javanicum), bungur (Lagerstromia speciosa), segawe (Adenanthera microsperma), aren (Arenga pinnata), langsat (Langsium domesticum), bendo (Artocarpus elasticus), suren (Toona sureni), dan durian (Durio sibethinus). Terdapat pula vegetasi bambu seperti : bambu bubat (Bambusa sp), bambu wuluh (Schizastychyum blumei), dan bambu lamper (Schizastychyum branchyladium). Di dalam kawasan juga terdapat beberapa jenis rotan, diantaranya : rotan manis (Daemonorops melanocaetes), rotan slatung (Plectomocomia longistigma), rotan warak (Plectomocomia elongata) dan lain-lain.

Hingga saat ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri telah teridentifikasi flora sebanyak 518 jenis, terdiri 15 jenis yang dilindungi dan 503 jenis yang tidak dilindungi. contoh jenis yang dilindungi yaitu Balanopora (Balanophora fungosa) yaitu tumbuhan parasit yang hidup pada jenis pohon Ficus spp. Dan Padmosari/Rafflesia (Rafflesia zollingeriana) yang hidupnya tergantung pada tumbuhan inang Tetrastigma sp. Selain itu terdapat pula jenis flora sebagai bahan baku obat/jamu tradisional, dimana berdasarkan hasil uji petik di lapangan telah teridentifikasi sebanyak 239 jenis yang dapat dikelompokkan dalam 7 habitus, yaitu bambu, memanjat, herba, liana, perdu, semak dan pohon.

Hingga saat ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri telah teridentifikasi fauna sebanyak 217 jenis, terdiri dari 92 jenis yang dilindungi dan 115 jenis yang tidak dilindungi. Jumlah sebanyak itu meliputi 25 jenis mamalia (18 diantaranya dilindungi), 8 reptilia (6 jenis diantaranya dilindungi), dan 184 jenis burung (68 jenis diantaranya dilindungi).

Kawasan hutan Meru Betiri merupakan habitat terakhir harimau jawa (Panthera tigris sondaica). Pada tahun 1976 oleh WWF dilaporkan bahwa harimau jawa yang ada di Meru Betiri tinggal 5 ekor atau paling banyak 6 ekor (John Seidensticker dan Suyono, 1976).

Perjumpaan secara langsung terhadap satwa ini tidak pernah ada, namun beberapa inventarisasi yang dilakukan menunjukkan adanya tanda-tanda harimau jawa di kawasan ini yaitu berupa cakaran dan kotoran. Jenis satwa lain yang potensial dan perlu mendapatkan perhatian khusus adalah populasi penyu yang sering bertelur di Pantai Sukamade. Pantai ini merupakan habitat bertelur bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan

penyu sisik (Eretmochelys imbricata), serta jenis penyu lainnya seperti penyu slengkrah (Lepidochelys olivacea) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Upaya pelestarian penyu yang dilakukan ditempuh melalui kegiatan pengamanan pantai, pengumpulan telur, pembuatan tempat penetasan semi permanen, pemeliharaan telur yang ditetaskan, pemeliharaan tukik yang baru menetas, pemeliharaan tukik di tempat penampungan, tagging, sexing, pencatatan data jumlah penyu, pencatatan data jumlah telur, penyuluhan, pelayanan penelitian, pelepasan tukik ke laut, pendidikan dan pelatihan untuk pelajar dan mahasiswa.

Beberapa jenis satwa yang terdapat di dalam kawasan Meru Betiri antara lain kijang (Muntiacus muntjak), banteng (Bos javanicus), macan tutul (Panthera pardus), babi hutan (Sus sp), rusa (Cervus timorensis), kancil (Tragulus javanicus), musang luwak (Phardoxorus hermaprodytus), kukang (Nycticebus caoncang), landak (Hystrix brachiura), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera hitam/lutung budeng (Trachypithecus auratus), kera (Macaca irus), trenggiling (Manis javanicus). Beberapa jenis burung seperti burung elang Jawa (Spizateus bartelsi), burung ular bodo (Spilormis

cheela), burung laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), burung elang hitam (Ictinaetus malayensis), burung elang bondol (Haliastur indus), burung elang brontok (Spizaetus cirrhatus), burung elang kelabu (Butastur indicus), burung sikep madu asia (Pernis ptilorynchus), burung kukuk beluk (Strix leptogrammica), burung alap-alap capung (Microhierax fringillarius), burung merak (Pavo muticus), burung rangkong (Buceros rhinoceros), serta beberapa jenis burung lainnya.

Berdasarkan penelitian H. Bartels dkk di kawasan Meru Betiri terdapat ± 180 jenis burung.

Obyek wisata di Taman Nasional Meru Betiri yang menarik untuk dikunjungi :

Bandealit
Wisata berkano dan berenang, penangkaran rusa (Cervus timorensis), Goa Jepang dan habitat Rafflesia zollingeriana dapat dinikmati di blok Krecek, dalam kawasan TNMB juga terdapat areal perkebunan Bandealit yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 131/Kpts-II/1998 dan Nomor : 132/Kpts-II/1998 tanggal 23 Pebruari 1998, areal ini dapat dijadikan sebagai tujuan agrowisata. Sukamade Habitat penyu bertelur, wisatawan dapat menyaksikan secara langsung aktifitas penyu naik ke pantai, bertelur maupun hanya sekadar memeti, di tempat ini juga terdapat penetasan semi alami untuk menetaskan telur-telur penyu kemudian tukik yang menetas dilepasliarkan kembali ke laut.

Rajegwesi
Akan dikembangkan menjadi Dusun Konservasi dan Wisata Bahari, aktifitas yang dapat dilakukan adalah berenang, wisata budaya (nelayan tradisional). Terdapat juga teluk Hijau dan teluk Damai yang terletak tidak jauh dari pantai Rajegwesi.

Jungle Tracking
Bagi pecinta alam ditawarkan juga wisata yang membutuhkan fisik yang kuat yaitu tracking/hiking, wisata ini menitikberatkan pada wisata petualangan yaitu :

Trans Bandealit
Teluk Meru (menginap) – Teluk Permisan (menginap) – Sukamade dengan waktu tempuh 2 – 3 hari.

Musim kunjungan terbaik : bulan Mei s/d September setiap tahunnya

Aksesibiltas
Kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dicapai melalui dua jalur :

1. Jalur melalui Jember
Jember – Ambulu – Curahnongko – Bandealit sepanjang 64 Km dari arah Jember, dapat ditempuh selama 1,5 jam.

2. Jalur melalui Banyuwangi
a. Jember – Genteng – Jajag – Pesanggaran – Sarongan – Sukamade sepanjang 103 Km, dapat ditempuh selama 3,5 – 4 jam.

b. Denpasar – Banyuwangi – Genteng – Jajag – Pesanggaran – Sarongan – Sukamade sepanjang 127 Km, dapat ditempuh selama 4 – 4,5 jam.

Dinyatakan Menteri Pertanian tahun 1982
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No.277/Kpts-IV/1997 dengan luas 58.000 Ha

Ditetapkan – - -
Letak Administrasi Kab. Jember dan Kab. Banyuwangi – Jawa Timur
Letak Geografis 113º38’38” – 113º58’30” BT dan 8º20’48” – 8º33’48” LS
Iklim Tipe B dan sebagian C berdasarkan Schmidt dan Ferguson
Curah hujan di kawasan ini bervariasi antara 2.544 – 3.478 mm per tahun
Topografi berbukit-bukit dengan kisaran elevasi dari tepi laut hingga ketinggian 1.223 mdpl
Jenis tanah umumnya merupakan asosiasi dari jenis aluvial, regosol dan latosol

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Baluran

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran.

Tumbuhan yang ada di taman nasional ini sebanyak 444 jenis, diantaranya terdapat tumbuhan asli yang khas dan menarik yaitu widoro bukol (Ziziphus rotundifolia), mimba (Azadirachta indica), dan pilang (Acacia leucophloea). Widoro bukol, mimba, dan pilang merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering (masih kelihatan hijau), walaupun tumbuhan lainnya sudah layu dan mengering.
Tumbuhan yang lain seperti asam (Tamarindus indica), gadung (Dioscorea hispida), kemiri (Aleurites moluccana), gebang (Corypha utan), api-api (Avicennia sp.), kendal (Cordia obliqua), manting (Syzygium polyanthum), dan kepuh (Sterculia foetida).

Terdapat 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus).

Satwa banteng merupakan maskot/ciri khas dari Taman Nasional Baluran.

Selain itu, terdapat sekitar 155 jenis burung diantaranya termasuk yang langka seperti layang-layang api (Hirundo rustica), tuwuk/tuwur asia (Eudynamys scolopacea), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan merah (Gallus gallus), kangkareng (Anthracoceros convecus), rangkong (Buceros rhinoceros), dan bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus).

Pada Hm. 80 Batangan – Bekol , terdapat sumur tua yang menjadi legenda masyarakat sekitar. Legenda tersebut menceritakan bahwa kota Banyuwangi, Bali dan Baluran sama-sama menggali sumur. Apabila, sumur di masing-masing kota tersebut lebih dahulu mengeluarkan air dan mengibarkan bendera, berarti kota tersebut akan merupakan sentral keramaian/ kebudayaan.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Batangan. Melihat peninggalan sejarah/situs berupa goa Jepang, makam putra Maulana Malik Ibrahim, atraksi tarian burung merak pada musim kawin antara bulan Oktober/November dan berkemah. Fasilitas: pusat informasi dan bumi perkemahan.
Bekol dan Semiang. Pengamatan satwa seperti ayam hutan, merak, rusa, kijang, banteng, kerbau liar, burung.

Fasilitas yang ada:
wisma peneliti, wisma tamu, menara pandang. Bama, Balanan, Bilik. Wisata bahari, memancing, menyelam/snorkeling, dan perkelahian antara rusa jantan pada bulan Juli/Agustus; dan sekawanan kera abu-abu yang memancing kepiting/rajungan dengan ekornya pada saat air laut surut.

Manting, Air Kacip. Sumber air yang tidak pernah kering sepanjang tahun, habitat macan tutul.
Popongan, Sejile, Sirontoh, Kalitopo. Bersampan di laut yang tenang, melihat berbagai jenis ikan hias, pengamatan burung migran.

Curah Tangis. Kegiatan panjat tebing setinggi 10-30 meter, dengan kemiringan sampai 85%.
Candi Bang, Labuan Merak, Kramat. Wisata budaya.

Cara pencapaian lokasi: Banyuwangi-Batangan dengan jarak 35 km, yang dilanjutkan ke Bekol dengan waktu 45 menit (12 km) atau Situbondo-Batangan dengan jarak 60 km menggunakan mobil.

Kantor : Jl. KH Agus Salim No. 132 Banyuwangi 68425, Jawa Timur
Telp. (0333) 424119; Fax. (0333) 412680
E-mail: tnbaluran@telkomnet dan
office@balurannationalpark.com
Web site: http://www.balurannationalpark.com

Bekol di Musim Kemarau
Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1980
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 279/Kpts- VI/97 seluas 25.000 hektar
Ditetapkan —-
Letak Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur

Temperatur udara 27° – 34° C
Curah hujan 900 – 1.600 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 1.247 m. dpl
Letak geografis 7°29’ – 7°55’ LS, 114°17’ – 114°28’ BT

Sumber : http://www.potlot-adventure.com

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Alas Purwo

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa.

Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 13 jenis bambu.

Taman Nasional Alas Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis). Satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas) biasanya sering mendarat di pantai Selatan taman nasional ini pada bulan Januari s/d September.

Pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Plengkung yang berada di sebelah Selatan Taman Nasional Alas Purwo telah dikenal oleh para perselancar tingkat dunia dengan sebutan G-Land. Sebutan G-land dapat diartikan, karena letak olahraga selancar air tersebut berada di Teluk Grajagan yang menyerupai huruf G. Ataupun letak Plengkung berada tidak jauh dari hamparan hutan hujan tropis yang terlihat selalu hijau (green-land). Plengkung termasuk empat lokasi terbaik di dunia untuk kegiatan berselancar dan dapat disejajarkan dengan lokasi surfing di Hawai, Australia, dan Afrika Selatan.

Menyelusuri pantai pasir putih dari Trianggulasi ke Plengkung akan menemukan daerah pasir gotri. Pasir tersebut bewarna kuning, berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 2,5 mm.

Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya “Blambangan”. Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring.

Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa “Pura Agung” yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari. Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Sadengan. Terletak 12 km (30 menit) dari pintu masuk Pasaranyar, merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung.

Trianggulasi. Terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah.

Pantai Ngagelan. Terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu.

Plengkung. Melihat perselancar profesional tingkat dunia yang sedang melakukan atraksi dan wisata penelusuran hutan.

Bedul Segoro Anak. Bersampan, berenang, ski air di danau dan pengamatan burung migran dari Australia.

Goa. Terdapat 40 buah tempat yang dapat disebut sebagai goa alam dan buatan antara lain Goa Jepang untuk melihat peninggalan dua buah meriam sepanjang 6 meter, Goa Istana, Goa Padepokan dan goa lainnya untuk wisata budaya dan wisata goa.

Cara pencapaian lokasi :
Banyuwangi-Pasaranyar 65 km, dan Pasaranyar-Trianggulasi 12 km menggunakan mobil. Trianggulasi-Plengkung, menyelusuri pantai sepanjang 10 km. Lokasi lainnya seperti Danau Segara Anak, Sadengan, Rowobendo dapat ditempuh berjalan kaki dari Trianggulasi.

Dinyatakan —-
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 283/Kpts-II/92,
seluas 43.420 hektar
Ditetapkan —-
Letak Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur

Temperatur udara 27° – 30° C
Curah hujan 1.000 – 1.500 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 322 meter dpl
Letak geografis 8°25’ – 8°47’ LS, 114°20’ – 114°36’ BT

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Gunung Merapi

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasinal Gunung Merapi

Taman Nasinal Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi adalah sebuah taman nasional (sering disingkat TN) yang terletak di Jawa bagian tengah. Secara administrasi kepemerintahan, wilayah taman nasional ini masuk ke dalam wilayah dua propinsi, yakni Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Penunjukan kawasan TN Gunung Merapi dilakukan dengan SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004. Tujuan pengelolaannya adalah perlindungan bagi sumber-sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan kabupaten/kota-kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Sementara ini, sebelum terbentuknya balai pengelola taman nasional, TN G Merapi berada di bawah pengelolaan Balai KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) Yogyakarta.

Letak dan luas

Posisi geografis kawasan TN Gunung Merapi adalah di antara koordinat 07°22’33″ – 07°52’30″ LS dan 110°15’00″ – 110°37’30″ BT. Sedangkan luas totalnya sekitar 6.410 ha, dengan 5.126,01 ha di wilayah Jawa Tengah dan 1.283,99 ha di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan TN G Merapi tersebut termasuk wilayah kabupaten-kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten di Jawa Tengah, serta Sleman di Yogyakarta.

Sejarah kawasan

Hutan-hutan di Gunung Merapi telah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak tahun 1931 untuk perlindungan sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan kabupaten/kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang.

Sebelum ditunjuk menjadi TNG Merapi, kawasan hutan di wilayah yang termasuk propinsi DI Yogyakarta terdiri dari fungsi-fungsi hutan lindung seluas 1.041,38 ha, cagar alam (CA) Plawangan Turgo 146,16 ha; dan taman wisata alam (TWA) Plawangan Turgo 96,45 ha. Kawasan hutan di wilayah Jateng yang masuk dalam wilayah TN ini merupakan hutan lindung seluas 5.126 ha.

Deskripsi fisik wilayah
Topografi

Wilayah TN G Merapi berada pada ketinggian antara 600 – 2.968 m dpl. Topografi kawasan mulai dari landai hingga berbukit dan bergunung-gunung. Di sebelah utara terdapat dataran tinggi yang menyempit di antara dua buah gunung, yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sekitar Kecamatan Selo, Boyolali.

Di bagian selatan, lereng Merapi terus turun dan melandai hingga ke pantai selatan di tepi Samudera Hindia, melintasi wilayah kota Yogyakarta. Pada sebelum kaki gunung, terdapat dua bukit yaitu Bukit Turgo dan Bukit Plawangan yang merupakan bagian kawasan wisata Kaliurang.

Jenis tanah

Jenis-jenis tanah di wilayah ini adalah regosol, andosol, alluvial dan litosol. Tanah regosol yang merupakan jenis tanah muda terutama berada di wilayah Yogyakarta. Bahan induk tanah adalah material vulkanik, yang berkembang pada fisiografi lereng gunung. Jenis tanah andosol ditemukan di wilayah-wilayah kecamatan Selo dan Cepogo, Boyolali.

Iklim

Tipe iklim di wilayah ini adalah tipe C menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson, yakni agak basah dengan nilai Q antara 33,3% – 66%. Besar curah hujan bervariasi antara 875 – 2527 mm pertahun. Variasi curah hujan di tiap-tiap kabupaten adalah sbb.:

  • Magelang: 2.252 – 3.627 mm/th
  • Boyolali: 1.856 – 3.136 mm/th
  • Klaten : 902 – 2.490 mm/th
  • Sleman : 1.869,8 – 2.495 mm/th

Hidrologi

Wilayah Gunung Merapi merupakan sumber bagi tiga DAS (daerah aliran sungai), yakni DAS Progo di bagian barat; DAS Opak di bagian selatan dan DAS Bengawan Solo di sebelah timur. Keseluruhan, terdapat sekitar 27 sungai di seputar Gunung Merapi yang mengalir ke tiga DAS tersebut.

Kekayaan biologis

Ekosistem Merapi secara alami merupakan hutan tropis pegunungan yang terpengaruh aktivitas gunung berapi. Beberapa jenis endemik di antaranya adalah saninten (Castanopsis argentea), anggrek Vanda tricolor, dan elang jawa (Spizaetus bartelsi). Taman nasional ini juga merupakan tempat hidup macan tutul (Panthera pardus).

Sumber : http://id.wikipedia.org/

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Bunaken

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Bunaken

Taman Nasional Bunaken

A. Latar Belakang

Tujuan Pengelolaan Taman Nasional Bunaken adalah sebagai berikut :

  1. Pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Ini merupakan usaha menjamin ketersediaan sumber plasma nutfah dari biota ekonomis untuk jangka panjang;
  2. Peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, melalui pengefektifan pola pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan berdasarkan prinsip konservasi;
  3. Peningkatan pendapatan daerah melalui pengembangan dan pengelolaan pariwisata alam dengan memanfaatkan keutuhan dan kelestarian ekosistem di dalam kawasan.

B. Status Kawasan
Kawasan Bunaken ditetapkan menjadi Taman Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. :730/Kpts-II/1991 tanggal 15 Oktiober 1991 tentang “Penenatapn kawasan Pulau-pulau Bunaken, Siladen Manado Tua, Mantehage, dan Nain serta Arakan-Wowontulap” Sebagai TAMAN NASIONAL BUNAKEN, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Desember 1992.

C. Potensi
Potensi TN Bunaken yang sangat menonjol adalah “Keanekaragaman hayati-nya” yang sangat tinggi, sehingga TN Bunaken mempunyai nilai konservasi nasional sebagai perwakilan ekosistem tropis Indonesia, dan juga memiliki nilai konservasi internasional sebab lokasi TN Bunaken terletak dipusat keanekaragaman hayati dan pesisir kawasan Indo-Pasifik.

Keanekaragaman hayati tersebut meliputi :

  1. Ekosistem laut dan Pesisir yang terdiri dari terumbu karang, padang lamun tropis (seagrass), Rumput laut (Algae), hutan bakau (Mangrove), ikan, mamalia laut, invertebrata terumbu karang.
  2. Ekosistem daratan (terestial) terdiri dari kawasan hutan tropis ( P. Manado Tua) dan kawasan binaan (pertanian dan pedesaan) sebagai daerah penyangga).

Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan/pesisir.

Pada bagian Utara terdiri dari pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Montehage, pulau Siladen, pulau Nain, pulau Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sedangkan pada bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Potensi daratan pulau-pulau taman nasional ini kaya dengan jenis palem, sagu, woka, silar dan kelapa. Jenis satwa yang ada di daratan dan pesisir antara lain kera hitam Sulawesi (Macaca nigra nigra), rusa (Cervus timorensis russa), dan kuskus (Ailurops ursinus ursinus).

Jenis tumbuhan di hutan bakau Taman Nasional Bunaken yaitu Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis kepiting, udang, moluska dan berbagai jenis burung laut seperti camar, bangau, dara laut, dan cangak laut.

Jenis ganggang yang terdapat di taman nasional ini meliputi jenis Caulerpa sp., Halimeda sp., dan Padina sp. Padang lamun yang mendominasi terutama di pulau Montehage, dan pulau Nain yaitu Thalassia hemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassodendron ciliatum.

Tercatat 13 genera karang hidup di perairan Taman Nasional Bunaken, didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Yang paling menarik adalah tebing karang vertikal sampai sejauh 25-50 meter

Sekitar 91 jenis ikan terdapat di perairan Taman Nasional Bunaken, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus), dan lain-lain.

Jenis moluska seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus berongga (Nautilus pompillius), dan tunikates/ascidian.

Musim kunjungan terbaik: bulan Mei s/d Agustus setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi:
Taman Nasional Bunaken dapat dicapai melalui Pelabuhan Manado, Marina Nusantara Diving Centre (NDC) di Kecamatan Molas dan Marina Blue Banter. Dari Pelabuhan Manado dengan menggunakan perahu motor menuju pulau Siladen dapat ditempuh + 20 menit, pulau Bunaken + 30 menit, pulau Montehage + 50 menit dan pulau Nain +60 menit. Dari Blue Banter Marina dengan menggunakan kapal pesiar yang tersedia menuju daerah wisata di pulau Bunaken dapat ditempuh dalam waktu 10-15 menit, sedangkan dari pelabuhan NDC menuju lokasi penyelaman di pulau Bunaken dengan menggunakan speed boat ditempuh dalam waktu + 20 menit.

Dinyatakan —-
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 730/Kpts-II/1991
luas 89.065 hektar
Ditetapkan —
Letak Kabupaten Minahasa dan Kotamadya
Manado, Provinsi Sulawesi Utara
Temperatur udara 26° – 31° C
Curah hujan 2.500 – 3.500 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 800 meter dpl
Salinitas 33 – 35 °/OO
Kecerahan 10 – 30 m
Pasang surut 2,5 meter
Musim Barat November s/d Februari
Musim Timur Maret s/d Oktober
Letak geografis 1°35’ – 1°49’ LU, 124°39’ – 124°35’ BT

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang semula bernama Taman Nasional Dumoga Bone ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan tahun 1990 dengan luas ± 287.115 hektar. Secara administratif pemerintahan berada pada Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Gorontalo, Propinsi Dati I Sulawesi Utara.

Cara mencapai lokasi : Manado – Kotamobagu (185 km) waktu 4 jam. Dari Kotamobagu ke Toraout (69 km) waktu 1 jam atau dari Kotamobagu ke Maelang (100 km) waktu 3 jam.

Potensi Kawasan :
Topografi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone beragam mulai dari datar, bergelombang ringan sampai berat dan berbukit terjal dengan ketinggian tempat berkisar antara 50 – 1.970 m dpl. Puncak tertinggi adalah G. sinombayuga membelah Utara-Selatan kawasan yang sekaligus membelah DAS Bone dan Dumoga. Secara umum curah hujan di lembah dumoga rata-rata 1.700 – 2.200 mm/tahun. Temperatur udara berkisar antara 21,5° – 31° C, kunjungan terbaik pada bulan April s/d September.

Kawasan terdiri dari hutan lumut, hutan hujan pegunungan rendah, hutan hujan dataran rendah dan hutan sekunder. Flora yang dominan adalah jenis-jenis Ficus antara lain Piper adundum, Trema orientalis, Macaranga sp, kayu kuning (Arcangelisia flava), palem matayangan (Pholidocarpus ihur), cempaka, kenanga, agathis, kayu hitam, kayu besi dan lain-lain.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone memiliki keanekaragaman fauna yang berasal dari wilayah Oriental dan Australasian dengan tingkat keendemikan yang tinggi. Burung-burung yang beranekaragam sekitar 125 jenis antara lain merpati, paruh bengkok, rajaudang, kupu-kupu, rangkong, pemakan lebah, dan sejenis burung yang istimewa yaitu Maleo (Megacephalon maleo). Selain itu satwa yang ada antara lain anoa besar, babi rusa, tarsius, kuskus dan berbagai jenis reptilia.

Kegiatan yang ditawarkan :

  • Rekreasi dan wisata alam antara lain atraksi satwa burung maleo, air terjun, sumber air panas, lintas hutan, pengamatan satwa, situs purbakala dan lain-lain.
  • Penelitian.
  • Wisata budaya.

Fasilitas yang tersedia : Kantor, wisma tamu, laboratorium, wisma peneliti, jalan trail, pondok kerja, pos jaga, camping ground, stasiun penelitian, shelter dan lain-lain.
Informasi Lainnya :

  • Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dikenal sebagai “Wallacea Area”
  • Belum ada pengusahaan pariwisata alam.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang sebelumnya bernama Dumoga Bone, memiliki berbagai keunikan ekologi sebagai kawasan peralihan geografi daerah Indomalayan di sebelah Barat dan Papua-Australia di sebelah Timur (Wallaceae Area).

Tumbuhan yang khas dan langka di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yaitu palem matayangan (Pholidocarpus ihur), kayu hitam (Diospyros celebica), kayu besi (Intsia spp.), kayu kuning (Arcangelisia flava) dan bunga bangkai (Amorphophallus companulatus). Sedangkan tumbuhan yang umum dijumpai seperti Piper aduncum, Trema orientalis, Macaranga sp., cempaka, agathis, kenanga, berbagai macam jenis anggrek, dan tanaman hias.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone memiliki 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu-kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan. Sebagian besar satwa yang ada di taman nasional merupakan satwa khas/endemik pulau Sulawesi seperti monyet hitam/yaki (Macaca nigra nigra), monyet dumoga bone (M. nigrescens), tangkasi (Tarsius spectrum spectrum), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), anoa besar (Bubalus depressicornis), anoa kecil (B. quarlesi), babirusa (Babyrousa babirussa celebensis), dan berbagai jenis burung.

Satwa burung yang menjadi maskot taman nasional adalah maleo (Macrocephalon maleo), dan kelelewar bone (Bonea bidens) merupakan satwa endemik taman nasional.

Ukuran badan burung maleo hampir sama dengan ayam, namun telurnya 6 kali berat telur ayam. Maleo meletakan telurnya di dalam tanah/pasir sedalam 30-40 cm, dan biasanya terletak berdekatan dengan sumber air panas. Dengan panas bumi inilah telur maleo menetas. Keluarnya anak maleo dari dalam tanah, larinya anak maleo ke alam bebas (umur sehari), mengintip induknya yang sedang menggali lubang; merupakan salah satu atraksi satwa yang menarik bagi para wisatawan.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Kosinggolan. Berkemah, pendakian ke Gunung Poniki, pengamatan satwa/tumbuhan.
Toraut, Lombongo, Tambun. Danau, air terjun Tumpah, sumber air panas, berkemah, mendaki gunung Padang, lintas hutan, berenang, atraksi maleo dan peninggalan budaya (batu berkamar).
Matayangan. Atraksi maleo, kera hitam, burung rangkong mandi di sungai dan lain-lain.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Bolaang Mongondow pada bulan Maret dan Festival Gorontalo pada bulan Mei.

Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d September setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Menggunakan kendaraan roda empat ditempuh Manado – Kotamobagu (185 km) sekitar empat jam. Dari Kotamobagu ke Toraut (69 km) sekitar satu jam atau dari Kotamobagu ke Maelang (100 km) sekitar tiga jam.

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
luas 300.000 hektar
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 731/Kpts-II/1992
luas 287.115 hektar
Ditetapkan —-
Letak Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi
Sulawesi Utara dan Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Temperatur udara 21° – 31° C
Curah hujan 1.200 – 2.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 50 – 2.000 meter dpl.
Letak geografis 0°20’ – 0°49’ LU, 123°08’ – 124°14’ BT

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Lore Lindu

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu memiliki berbagai tipe ekosistem yaitu hutan pamah tropika, hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan sampai hutan dengan komposisi jenis yang berbeda.

Tumbuhan yang dapat dijumpai di hutan pamah tropika dan pegunungan bawah antara lain Eucalyptus deglupta, Pterospermum celebicum, Cananga odorata, Gnetum gnemon, Castanopsis argentea, Agathis philippinensis, Philoclados hypophyllus, tumbuhan obat, dan rotan.

Hutan sub-alpin di taman nasional ini berada diatas ketinggian 2.000 meter dpl. Keadaan hutannya sering diselimuti kabut, dan sebagian besar pohonnya kerdil-kerdil yang ditumbuhi lumut.

Di dalam kawasan taman nasional terdapat berbagai ragam satwa yaitu 117 jenis mamalia, 88 jenis burung, 29 jenis reptilia, dan 19 jenis amfibia. Lebih dari 50 persen satwa yang terdapat di kawasan ini merupakan endemik Sulawesi diantaranya kera tonkean (Macaca tonkeana tonkeana), babi rusa (Babyrousa babyrussa celebensis), tangkasi (Tarsius diannae dan T. pumilus), kuskus (Ailurops ursinus furvus dan Strigocuscus celebensis callenfelsi), maleo (Macrocephalon maleo), katak Sulawesi (Bufo celebensis), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), tikus Sulawesi (Rattus celebensis), kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), ular emas (Elaphe erythrura), dan ikan endemik yang berada di Danau Lindu (Xenopoecilus sarasinorum).

Disamping kekayaan dan keunikan sumberdaya alam hayati, taman nasional ini juga memiliki kumpulan batuan megalitik yang bagus dan merupakan salah satu monumen megalitik terbaik di Indonesia.

Taman Nasional Lore Lindu mendapat dukungan bantuan teknis internasional, dengan ditetapkannya sebagai Cagar Biosfir oleh UNESCO pada tahun 1977.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Lembah Besoa. Melihat habitat maleo, megalit dan rekreasi.
Danau Lindu, Gimpu, Wuasa, Bada. Danau, bersampan dan pengamatan satwa burung.

Lembah Saluki, Lembah Bada, Lembah Napu. Melihat berbagai batu megalit.
Gunung Nokilalaki, Gunung Rorekatimbo, Sungai Lariang. Pendakian dan berkemah serta arung jeram.

Danau Lewuto. Danau dan melihat peninggalan mayat Moradino.
Dongi-dongi, Kamarora. Berkemah, air panas, lintas hutan, pengamatan satwa.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Poso pada bulan Agustus.
Musim kunjungan terbaik: bulan Juli s/d September setiap tahunnya

Cara pencapaian lokasi: Dapat dicapai dengan kendaraan roda empat: Palu-Kamarora (50 km) dengan waktu tempuh 2,5 jam, Palu-Wuasa (100 km) lima jam dan Wuasa-Besoa (50 km) empat jam. Palu- Kulawi (80 km) enam jam. Perjalanan di dalam kawasan dapat dilakukan dengan jalan kaki ataupun dengan naik kuda dengan route : Gimpu-Besoa-Bada selama tiga hari dan Saluki (Sidaonta) – Danau Lindu selama satu hari.

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
luas 231.000 hektar
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 593/Kpts-II/1993
luas 229.000 hektar
Ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 646/Kpts-II/1999
luas 217.991,18 hektar
Letak Kab. Donggala dan Kab. Poso,
Provinsi Sulawesi Tengah
Temperatur udara 22° – 34° C
Curah hujan 2.000 – 3.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 500 – 2.600 meter dpl
Letak geografis 1°03’ – 1°58’ LS, 119°57’ – 120°22’ BT

Sumber : http://www.dephut.go.id

Kategori:taman nasional

Taman Nasional Laut Taka Bonerate

Home > Informasi Pariwisata Dunia > Wisata Alam > Taman Nasional Laut Taka Bonerate

Taman Nasional Laut Taka Bonerate

Ditunjuk sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan Tahun 1992 dengan luas ± 530.765 hektar. Secara administratif pemerintahan berada pada Kecamatan Passi Masunggu dan Kecamatan Passi Maranu, Kabupaten Dati II Selayar, Propinsi Dati I Sulawesi Selatan.

Kawasan
Taman Nasional Laut Taka Bonerate sebagai salah satu Kawasan Pelesatarian Alam di Indonesia, ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 280/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992 dengan luas ± 530.765 hektar.

Upaya pengelolaan taman nasional ini dimaksudkan untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, guna memenuhi fungsinya sebagai daerah perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, guna dapat dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budi daya, pariwisata dan rekreasi.

Secara operasional Taman Nasional Laut Taka Bonerate berada di bawah pembinaan Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan melalui Proyek Pengembangan Taman Nasional Laut Taka Bonerate dan Proyek Pengembangan Kawasan Konservasi Propinsi Sulawesi Selatan.
Keadaan perkampungan nelayan di P. Rajuni yang merupakan salah satu pulau di KTN. Taka Bonerate

Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate terletak di laut Flores dengan jarak 79-206 mil sebelah Selatan Benteng, Ibukota Kabupaten Selayar. Secara administratif pemerintahan terletak pada 2 wilayah Kecamatan yaitu : Kecamatan Pasimaranu dan Kecamatan Pasimasunggu, Kabupaten Dati II Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis terletak antara 120° 55′ – 121° 00′ BT dan 6° 22′ – 7° 4′ LS.

Jumlah pulau yang ada di daerah ini adalah sebanyak 21 buah pulau, di mana 6 buah pulau di antaranya dihuni oleh penduduk sebanyak ± 5.101 jiwa.

Kawasan ini merupakan karang atol terbesar ketiga di dunia (setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva) dengan luas ± 220.000 hektar.

Topografi kawasan ini sangat unik dan menarik di mana atol yang terdiri dari gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas dan tenggelam membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak. Di antara pulau-pulau dan gosong karang terdapat selat-selat sempit yang dalam dan terjal, sedangkan pada bagian permukaan rataan terumbu banyak terdapat kolam-kolam kecil yang dalam dikelilingi oleh terumbu karang, di mana pada saat air surut terendah akan tampak seperti daratan kering yang diselingi oleh genangan air yang membentuk kolam-kolam kecil. Pada bagian luar daerah atol, dikelilingi oleh massa air yang berwarna biru pekat yang merupakan perairan yang cukup dalam (lebih dari 1.500 meter) dan terjal.
Kondisi perairan di daerah ini dipengaruhi oleh musim barat (Januari-Maret) dan musim timur (Juli-September) yang diselingi oleh musim pancaroba (April-Juni dan Oktober-Desember). Sedangkan keadaan oceanografis perairannya adalah sebagai berikut : suhu 28,5° -32,0° C, salinitas 34,5- 5,5 o/oo, oksigen terlarut 4,5-6,0 ppm, pH 7,0-8,0, kecerahan 80-100% dan pasang surut 1,0-1,5 meter

Flora dan Fauna
Berbagai jenis flora dan fauna dapat ditemui di wilayah Taman Nasional Taka Bonerate, khususnya jenis flora dan fauna laut.

Flora
Jenis flora yang tumbuh di daerah pantai didominasi oleh tumbuhan kelapa (Cocos nucifera), Pandan Laut (Pandannus sp), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Ketapang (Terminalia catappa) dan Waru Laut (Hibiscus tiliaceus). Sedangkan jenis flora air yang umum ditemui antara lain jenis rumput laut dan alga dari jenis Thalassia sp, Enhalus sp, Halimeda sp. dan Sargasum sp. Salah satu jenis flora pantai yang tumbuh di Taman Nasional Taka Bonerate
Fauna
Jenis fauna, khususnya fauna laut yang dapat ditemui di wilayah ini antara lain :

Ikan
Di kawasan ini terdapat ± 350 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Jenis-jenis tersebut antara lain adalah Kerapu (Epinephelus spp), Cakalang (Katsuwonus spp), Tenggiri (Scomberomorus spp), Napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), Baronang (Siganus sp), Cheitodon spp dan sebagainya.

Karang
Telah diidentifikasi sebanyak 237 jenis terumbu karang yang tumbuh pada kedalaman 5–20 meter. Jenis-jenis tersebut antara lain Akar Bahar (Antiphates sp), Karang Meja (Acropora spp), Karang tanduk (Acropora spp), Pavona spp, Montipora spp dan Fungia spp. Secara umum jenis-jenis karang telah membentuk terumbu karang, baik dalam bentuk atol (Barrier reef) dan terumbu tepi (Fringing reef).

Moluska
Tercatat sebanyak 101 jenis moluska antara lain dari klas Gastropoda : Lola (Trochus spp), Kerang Kepala Kambing (Cassis cornuta), Triton (Charonia tritonis) dan Batulaga (Turbo spp).

Klas Bivalva : Kima (Tridacna spp), Kerang mutiara (Pincfada spp) dan Klas Chephalopoda : Nautilus (Nautilus sp), Cumi-cumi (Squid sp) dan Gurita (Octopus sp).

Penyu
Telah diidentifikasi ada 4 jenis penyu di kawasan ini, yang paling dominan adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), di samping jenis penyu Tempayan (Caretta caretta) dan penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Echinodermata
Jenis-jenis echinodermata yang ditemui di perairan Taman Nasional Laut Taka Bonerate antara lain : Teripang (Holothuroidea sp), bintang laut (Asteroidea), Lili Laut (Criroidea) dan Bulu Babi (Echinoidea).
Legenda Taman Nasional Laut Taka Bonerate
Berdasarkan cerita dari tokoh masyarakat yang ada, bahwa penduduk yang bermukim di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate (Suku Bajau dan Suku Bugis) berasal dari para awak kapal layar dan nelayan yang menyelamatkan diri dari gangguan para bajak laut maupun dari ganasnya gelombang laut Banda (di musim barat). Memang Kepulauan Taka Bonerate yang terdiri dari 21 buah pulau termasuk gosong dan rengat sangat ideal untuk tempat berlindung.

Dewasa ini kepulauan tersebut telah berubah menjadi tempat tinggal/pemukiman. Hal ini disebabkan karena daerah ini kaya akan sumber daya alam laut. Penduduk yang menetap di kawasan ini telah mencapai ± 5.101 jiwa, dengan perincian : Pulau Rajuni 1.272 jiwa, Pulau Tarupa 1.204 jiwa, Pulau Latondu 512 jiwa, Pulau Jinato 651 jiwa, Pulau Passitalu Tengah 820 jiwa, Pulau Passitalu Timur 642 jiwa.

Obyek Wisata dan Aksessibilitas
Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate sangat potensial sebagai obyek wisata, terutama untuk kegiatan-kegiatan
antara lain : berjemur di pantai, snorkeling, bagi yang membawa perlengkapan selam dapat juga melakukan diving sambil menikmati panorama alam di bawah laut (terumbu karang, aneka warna ikan hias dan bermacam-macam kima). Di samping itu terdapat pemandangan yang sangat indah dan sayang untuk dilewatkan yaitu pada saat-saat matahari akan tenggelam (sun set).

Untuk mencapai kawasan Taman Nasional Taka Bonerate dapat ditempuh sebagai berikut :

Ujung Pandang – Bira (bis) ± 4,0 jam
Bira – Pel. Pamatata (fery) ± 2,5 jam
Pel. Pamatata – Benteng Selayar (bis) ± 2,0 jam
Benteng Selayar – Taman Nasional (kapal motor) ± 10,0 jam
Catatan :

Rute Ujung Pandang – Bulukumba – Benteng Selayar telah ada layanan dan jadwal yang tetap. Sedangkan dari Benteng Selayar – Taman Nasional belum ada (harus menggunakan kapal motor carteran).
Cara mencapai lokasi :
Dari Ujung Pandang ke Bulukumba (153 km) dengan waktu tempuh ± 4 jam, kemudian ke Benteng Selayar (ferry) sekitar ± 4 jam. Dari Benteng Selayar ke pulau-pulau yang terdekat (kapal motor) sekitar ± 7 jam.

Potensi Kawasan :
TNL Taka Bonerate terdiri dari Kep. Macan (14 pulau) dan Kep. Passi Tallu (7 pulau), yang sebagian besar dari pulau-pulau tersebut merupakan atol dengan konfigurasi pasir putih. Pada air laut surut terendah akan tampak seperti daratan kering yang diselingi oleh genangan yang membentuk kolam-kolam kecil.

TNL Taka Bonerate mempunyai terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 km2 dengan kedalaman dataran tersebut berbeda-beda mulai dari yang tampak di permukaan air saat air surut sampai kedalaman tiga meter.

Temperatur udara berkisar antara 28,5° – 32° C, kunjungan terbaik pada bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember. Tercatat tidak kurang dari 128 jenis yang termasuk dalam 61 marga yang seluruhnya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh. Terdapat berbagai aneka ragam biota laut antara lain Ikan Bendera (Heniochus yaxius), Mas Laut (Myyripristis melanoslictus), Kuda Laut (Hipposampus kuda), Penyu Sisik, Penyu Hijau, Kima, rumput Laut dan berbagai jenis ikan komersial.

Kegiatan yang ditawarkan :
Rekreasi dan wisata bahari antara lain diving/snorkling, berlayar, memancing, berenang, berjemur, menikmati panorama laut.

  • Penelitian.

Fasilitas yang tersedia : Pondok kerja, pos jaga, kapal motor/speedboat.

Informasi Lainnya :

  • TNL Taka Bonerate mempunyai karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kep. Marshal dan Suvadiva di Kep. Moldiva.
  • Belum ada pengusahaan pariwisata alam.

Kawasan Taman Nasional Laut Taka Bonerate
Flora dan Fauna
Legenda
Obyek Wisata
Tertib Kunjungan

Sumber : http://www.pendakierror.com
Photo : http://www.deiopea.ch

Kategori:taman nasional
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.